Warga Kharkiv Mohon Bantuan Dunia: Rusia Akan Bom Kota Kami Hingga Jadi Abu
·waktu baca 2 menit

Kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv, tak kunjung lepas dari terkaman Rusia. Kharkiv dihabisi pasukan Kremlin dari darat hingga udara seiring invasi bergulir dalam pekan pertama.
Penembakan dan pemboman yang berlangsung dari Senin (28/2/2022) itu dinilai melanggar hukum internasional. Sebab, serangan menyapu area sipil hingga menyebabkan ratusan korban.
Kobaran api kini masih melalap sejumlah titik usai serangan terbaru pada Rabu (2/3/2022) pagi waktu setempat. Empat orang tewas dalam penembakan tersebut. Sembilan orag lainnya dikabarkan luka-luka.
Angka itu menambah jumlah korban sehari sebelumnya, yakni 21 korban tewas dan 112 terluka.
“Tolong tutup langit untuk misil Rusia dan pesawat Rusia. Karena mereka hanya akan mengebom seluruh kota menjadi abu,” pinta seorang warga bernama Glib Mazepas, seperti dikutip dari BBC.
Melihat dunia sekitarnya telah berubah menjadi puing-puing, Mazepas hanya dapat menggantungkan harapan pada NATO. Ia mendesak sekutu NATO agar memberlakukan zona larangan terbang di atas Ukraina.
Pasalnya, Mazepas menyaksikan langsung kengerian tersebut. Ia kemudian menggambarkan keadaan saat serangan rudal menghantam alun-alun Freedom Square yang berjarak hanya 1 km dari rumahnya.
“Ada suara siulan di atas kepala kami, kemudian dentuman. Saya ingat rumah kami tidak bergetar, hanya berayun dari kiri ke kanan, selama sekitar lima detik. Itu adalah perasaan yang sangat aneh,” kenang Mazepas.
Akibat pengalaman mengerikan itu, kepanikan kerap menyeruak saat Mazepas mendengar suara-suara. Ia mencurigai segala bunyi sebagai tanda serangan Rusia.
“Kemarin istri saya memanaskan sesuatu dengan microwave. Dan saya panik karena saya pikir itu semacam serangan,” tutur Mazepas.
“Anda terbiasa dengan perang dengan sangat cepat, percayalah. Ini masalah satu atau dua hari. Saya tidak pernah mengira akan seperti ini,” sambungnya.
Melihat penduduknya yang dilanda trauma, Wali Kota Kharkiv, Ihor Terekhov, lantas menyebut invasi Moskow sebagai genosida.
Terekhov menegaskan, Kharkiv sendiri merupakan kota berbahasa Rusia. Satu dari empat orang di Kharkiv bahkan memiliki kerabat dari Rusia. Tetapi, sikap para penduduk terhadap Kremlin telah berubah.
“Kami tidak pernah menyangka ini bisa terjadi: kehancuran total, pemusnahan, genosida terhadap rakyat Ukraina - ini tidak bisa dimaafkan,” ujar Terekhov, seperti dikutip dari Sky News.
