Warga Korban Likuifaksi di Palu Direlokasi Tak Jauh dari Tempat Asal

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konpers Perkembangan Terkini di Kemenkopolhukam. (Foto: Reki Febrian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konpers Perkembangan Terkini di Kemenkopolhukam. (Foto: Reki Febrian/kumparan)

Selain luluh lantak akibat gempa, tanah di Palu juga ikut hancur dan terbelah akibat adanya fenomena tanah bergerak (likuifaksi). Saat terjadi gempa, banyak rumah yang amblas dan tertimbun lumpur yang keluar dari dalam perut bumi. Pemerintah pun menyiapkan relokasi kepada warga yang selamat dari masalah likuifaksi ini.

“Nanti kita relokasi itu, enggak di tempat yang terdapat likuifaksi, itu nanti (tempat) likuifasi kan ditutup, dijadikan monumen,” ucap Menkopolhukam, Wiranto, di Gedung Kementrian Menkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat pada Jumat (5/10).

Wiranto menambahkan, relokasi warga yang menjadi korban likuifaksi tersebut, tidak berada jauh dengan tempat tinggal awal. Tahapan tersebut akan dimulai pada tahap rekonstruksi. Di mana pembangunan relokasi akan juga memperhatikan struktur tata kota.

Kawasan tanah bergerak (likuifaksi) yang terjadi akibat gempa bumi berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018 di Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)
zoom-in-whitePerbesar
Kawasan tanah bergerak (likuifaksi) yang terjadi akibat gempa bumi berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018 di Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

“Tata kota akan dibuat sesuai kondisi tanah. Perumnas itu dibangun dengan tanah yang labil kan enggak tahu, presiden juga wanti-wanti, coba carikan teknologi, untuk menilai struktur tanah di mana warga bermukim,” jelas Wiranto.

Sementara itu, dalam tahap rehabilitasi ini, warga akan dibuatkan barak pengungsian dengan fasilitas yang memadai. Barak tersebut rencananya akan dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), minggu depan.

“Sementara barak, nanti ditinggalkan. Kalau engak salah istilanhya Huntara (Hunian Sementara), istilahnya gitu di PUPR,” pungkas Wiranto.

Jalanan rusak parah akibat gempa di Perumnas Balaroa, Palu. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Jalanan rusak parah akibat gempa di Perumnas Balaroa, Palu. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)