Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2024 © PT Dynamo Media Network
Version 1.89.1
Warga Korsel Kesal Trump Batalkan Pertemuan dengan Kim Jong-un
25 Mei 2018 15:21 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:08 WIB
ADVERTISEMENT
Warga Korea Selatan mengaku kesal atas langkah Donald Trump yang membatalkan pertemuan dengan Kim Jong-un di Singapura. Menurut mereka, tindakan Trump malah merusak prospek perdamaian antara kedua Korea.
ADVERTISEMENT
"Korea Utara di tengah proses melakukan semua yang diminta. Mereka bahkan meledakkan situs uji nuklir," kata Eugene Lim, pekerja kantoran berusia 29 tahun di Seoul, kepada Reuters.
"Trump tidak ada kepentingan dengan perdamaian di negara kami. Mengapa dia tidak biarkan saja kami, dua Korea, hidup damai?" kata Lim lagi.
Korut menghancurkan terowongan tempat uji nuklir di Punggye-ri, beberapa jam sebelum Donald Trump mengirim surat kepada Kim Jong-un berisi pembatalan pertemuan di Singapura yang sedianya dilakukan pada 12 Juni mendatang.
Dalam suratnya, Trump mengatakan Korut memperlihatkan sifat bermusuhan sebelum pertemuan. Trump juga mengancam dengan mengatakan AS juga punya nuklir yang lebih besar dan hebat.
Puluhan mahasiswa dan aktivis perempuan menggelar aksi di Seoul untuk memprotes keputusan Trump. Beberapa membawa poster menolak peperangan dan mendukung perdamaian.
ADVERTISEMENT
Korut dan Korsel masih dalam status berperang setelah Perang Korea berakhir pada 1953 dengan gencatan senjata, bukan kesepakatan damai.
Menurut Kim Dong-ho, karyawan 38 tahun di sebuah perusahaan di Seoul, Korut tidak seharusnya diisolasi lagi ketika hendak berupaya mendekati komunitas internasional.
"Mereka yang tinggal di semenanjung Korea menderita akibat ulahmu (Trump), dasar Yankee!" kata Kim.
Langkah Trump tidak terduga. Padahal sebelumnya dia memperlihatkan gelagat baik. Bahkan muncul wacana jika dua Korea berdamai, Trump layak dapat penghargaan Nobel.
"Trump merusak semua upaya dua Korea untuk melakukan pertemuan AS-Korut. Bagi saya Korut seperti negara yang normal, mengatakan akan memberi AS waktu," kata Yun Hae-ri, 25, warga Seoul.
"Saya kira Trump tidak melakukan hal yang benar jika dia ingin Penghargaan Nobel Perdamaian," lanjut Yun.
ADVERTISEMENT
Live Update