Warga Kunjorowesi Mojokerto Krisis Air Bersih, Tempuh 7 KM Demi Sumber Air

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menuangkan air ke dalam jeriken di Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Minggu (19/7/2026). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Warga menuangkan air ke dalam jeriken di Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Minggu (19/7/2026). Foto: Dok. Istimewa

Warga Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, mengalami krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan selama empat bulan terakhir.

Kekeringan melanda dua dusun di desa yang berada di lereng Gunung Penanggungan tersebut, yakni Dusun Kunjoro dan Dusun Kandangan.

Akibat krisis air bersih itu, warga Dusun Kandangan bergantung pada sisa air hujan yang ditampung di kolam penampungan maupun tandon yang tersedia di rumah masing-masing.

Salah seorang warga Dusun Kandangan, Mahfud (43), mengatakan kekeringan mulai melanda wilayahnya sejak April 2026.

"Sudah hampir empat bulan sejak April. Lingkungan sini memang kalau masalah air bersih tiap tahun tidak ada. Di sini ada sekitar 85 kepala keluarga," kata Mahfud, Sabtu (18/7).

Menurut Mahfud, air hujan yang ditampung hanya mampu memenuhi kebutuhan warga selama sekitar satu bulan dan kini persediaannya hampir habis.

"Air yang ditampung itu hanya bisa digunakan satu bulan saja dan tidak mencukupi. Ada pipa bantuan dari desa yang mengalir dari Trawas, tetapi harus bergiliran. Ada 12 RT, jadi masing-masing mendapat giliran setiap 12 hari sekali. Kebetulan di sini RT 12, jadi harus menunggu 12 hari dan air yang mengalir hanya bisa dipakai dua hari atau paling lama satu minggu," ungkapnya.

Warga menggotong jeriken berisi air di Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Minggu (19/7/2026). Foto: Dok. Istimewa

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, seperti mandi, mencuci, memasak, dan minum, warga harus mengambil air dari Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

"Ambil airnya jauh, sekitar tujuh kilometer, di kawasan Sumber Tetek. Itu sudah masuk desa lain, bahkan Kabupaten Pasuruan. Yang punya sepeda motor mengambil sendiri. Kalau yang tidak punya kendaraan, biasanya menyewa pikap secara patungan sekitar 10 orang," paparnya.

Mahfud mengatakan warga telah dua kali mencoba mencari sumber air dengan melakukan pengeboran. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil meski telah melibatkan tenaga ahli.

Harapan Warga

Kini, Mahfud bersama warga lainnya berharap BPBD Kabupaten Mojokerto maupun instansi terkait segera menyalurkan bantuan air bersih.

"Mengandalkan air hujan dan bantuan. Kalau musim kemarau ya hanya mengandalkan air hujan. Kami berharap BPBD atau dinas terkait segera membantu pasokan air bersih. Tahun ini sudah hampir empat bulan kekeringan, tetapi belum ada bantuan yang datang," pungkasnya.

3 Desa Terdampak

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, sedikitnya tiga desa terdampak kekeringan di kawasan kaki Gunung Penanggungan.

Di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, sebanyak 1.499 kepala keluarga (KK) atau 3.053 jiwa terdampak. Sementara di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, sebanyak 774 KK atau 2.086 jiwa terdampak.

Adapun di Kecamatan Trawas, Desa Duyung mengalami kekeringan yang berdampak pada 503 KK atau 1.564 jiwa.