Warga Palestina Tanpa Dokumen Tiba di Afsel, RI Disebut Jadi Tujuan Berikutnya

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Staf medis membawa pasien kanker Palestina yang dievakuasi dari Gaza ke Mesir dan dibawa ke Turki dengan pesawat, di Bandara Esenboga di Ankara, Turki, Kamis (16/11/2023). Foto: Cagla Gurdogan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Staf medis membawa pasien kanker Palestina yang dievakuasi dari Gaza ke Mesir dan dibawa ke Turki dengan pesawat, di Bandara Esenboga di Ankara, Turki, Kamis (16/11/2023). Foto: Cagla Gurdogan/REUTERS

Sebanyak 153 warga Palestina mendarat di Afrika Selatan tanpa dokumen yang jelas. Dikutip dari Al Jazeera, Senin (17/11), mereka bahkan sempat tidak diizinkan turun dari pesawat selama 12 jam karena diminta untuk tetap berada di pesawat oleh polisi perbatasan.

Pesawat yang disewa membawa 153 warga Palestina itu mendarat di Bandara Internasional OR Tambo pada Kamis (13/11) pagi waktu setempat. Mereka diminta untuk tetap berada di pesawat oleh polisi perbatasan karena tidak ada cap keberangkatan dari Israel di paspor mereka.

AFP dalam laporannya mengatakan pesawat itu adalah pesawat charter yang dioperasikan oleh maskapai Afrika, Global Airways, dan transit di Nairobi, Kenya.

"Mereka adalah orang dari Gaza yang secara misterius ditempatkan di pesawat yang melewati Nairobi dan tiba di sini," kata Presiden Afsel Cyril Ramaphosa kepada jurnalis.

"Kami pasti akan menyelidiki asal usul mereka, di mana awalnya, mengapa mereka dibawa ke sini. Karena mereka tidak memiliki dokumen apa pun," lanjutnya.

Ramaphosa melanjutkan meski 153 warga Palestina itu tetap diterima di Afsel atas dasar belas kasihan, dia curiga mereka diusir dari Jalur Gaza.

Warga Palestina Baru Tahu Dibawa ke Afsel Begitu Tiba di Bandara

O.R. Tambo International Airport di Johannesburg, Afrika Selatan. Foto: ALEXANDRE F FAGUNDES/Shutterstock

Salah satu warga Palestina yang ikut dalam penerbangan itu, Loay Abu Saif, mengaku tidak tahu tujuan penerbangan mereka. Dalam pengakuannya kepada Al Jazeera, Abu Saif mengatakan militer Israel memfasilitasi keberangkatan 153 warga Palestina itu lewat bandara Israel.

Abu Saif yang pergi bersama istri dan anaknya mengaku baru mengetahui pesawat akan menuju Johannesburg, Afsel, ketika akan melanjutkan perjalanan dari Nairobi.

Menurut pengakuan Abu Saif, istrinya mendaftarkan keluarganya ke sebuah lembaga nirlaba bernama Al-Majd Europe yang berkantor pusat di Jerman dan memiliki kantor di Yerusalem. Lembaga itu mengiklankan formulir pendaftaran di media sosial.

Abu Saif menduga Al-Majd Europe memilih keluarganya dalam perjalanan ini karena lembaga itu fokus pada keluarga yang memiliki anak dan membutuhkan dokumen perjalanan Palestina yang sah, serta izin keamanan dari Israel.

"Hanya ini yang saya tahu terkait kriterianya," kata Abu Saif.

Soal apakah sejak awal dia tahu kapan akan meninggalkan Gaza, Abu Saif mengatakan tidak ada batas waktu yang diberikan lembaga itu.

"Mereka bilang akan memberi tahu kami sehari sebelumnya. Itu yang terjadi," ungkapnya. Dia melanjutkan lembaga itu meminta mereka untuk tidak membawa tas atau koper pribadi kecuali dokumen yang relevan.

Dari segi biaya, setiap orang dikenakan biaya sekitar USD 1.400 hingga 2.000 per orang (setara Rp 23 juta hingga Rp 33 juta). Orang tua membayar biaya yang sama per anak atau bayi yang mereka bawa.

Setelah dipilih untuk berangkat, Abu Saif dan keluarganya dibawa oleh bus dari Rafah ke Karem Abu Salem di sepanjang perbatasan Israel. Mereka menjalani pemeriksaan di sana, kemudian dipindahkan menuju Bandara Ramon Israel.

Abu Saif mengatakan dokumen perjalanan tidak dicap oleh otoritas Israel. Dia mengira itu hanya prosedur rutin karena tidak ada petugas perbatasan Palestina di Gaza.

"Kami menyadari masalahnya ketika sampai di Afrika Selatan dan mereka bertanya, 'Anda datang dari mana?'," katanya lagi.

Indonesia Termasuk Negara Tujuan?

Abu Said mengatakan, Al-Majd Europe mengaku dapat membantu keluarganya selama seminggu atau dua minggu, dan kemudian akan dilepas untuk pergi mandiri. Namun, Abu Saif mengatakan warga lainnya telah membuat rencana sendiri untuk ke depannya.

"Mereka punya dokumen untuk Australia, Indonesia, atau Malaysia. Bisa dibilang 30% dari total jumlah penumpang yang pergi ke Afrika Selatan pada hari yang sama atau dalam dua hari pertama," tuturnya. Menurutnya, warga yang lain memilih untuk tinggal karena sejumlah alasan, termasuk untuk mendapat perawatan.

"Mereka telah menghitung biaya hidup di negara mana pun akan lebih murah dibandingkan biaya hidup di Gaza," pungkasnya.

kumparan telah mencoba menghubungi Kemlu untuk meminta konfirmasi terkait informasi warga Palestina yang akan dibawa ke Indonesia. Kemlu mengatakan masih mengecek kebenaran informasi ini.