Warga Parungpanjang Bogor Blokir Jalan, Protes Debu Proyek Betonisasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi jalanan di Parungpanjang, Kabupate Bogor. Dok. Polsek Parungpanjang
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jalanan di Parungpanjang, Kabupate Bogor. Dok. Polsek Parungpanjang

Kesal dengan debu yang terus beterbangan akibat proyek betonisasi jalan, sejumlah warga Desa Jagabaya, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor, memblokir akses jalan pada Rabu (12/8) malam.

Aksi tersebut sempat membuat arus lalu lintas terhenti. Dalam video yang beredar, warga terlihat membakar ban di tengah jalan dan memaksa truk yang membawa material proyek putar balik.

Proyek betonisasi mencakup rekonstruksi Jalan Parung Panjang–Bunar senilai Rp 60,737 miliar untuk panjang 5,5 kilometer. Proyek ini memakai konstruksi beton semen tipe FS45 untuk mengatasi kerusakan jalan akibat kendaraan berat dan memperlancar jalur ekonomi warga.

Kapolsek Parungpanjang Kompol M Taufik mengatakan aksi tersebut dipicu debu dari proyek yang dinilai sudah mengganggu aktivitas warga.

“Warga Jagabaya terdampak berupa banyaknya debu yang diakibatkan oleh perbaikan jalan, udah gitu penyiraman jalan yang berdebu nggak sesuai jadwal kesepakatan yang dibuat, makanya warga protes dengan memblokade jalan,” ujar Taufik saat dihubungi Kamis (13/8).

Sebelumnya, pelaksana proyek telah sepakat melakukan penyiraman jalan untuk menekan debu. Namun, warga menilai penyiraman belum maksimal sehingga debu masih bertebaran.

Keluhan tersebut kemudian ditangani Forkopimcam Parungpanjang. Taufik bersama Danramil, camat, dan sejumlah anggota mendatangi lokasi untuk meredam situasi.

“Alhamdulillah warga menghentikan aksinya. Kemudian perwakilan warga dengan kami berdiskusi dengan pihak pengelola untuk mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.

Hasil pembahasan tersebut, pelaksana proyek diminta meningkatkan teknik penyiraman jalan. Selain itu, pengerjaan jalan yang semula ditargetkan rampung pada November didorong untuk dipercepat menjadi Oktober.

“Dijadwalkan awal November, diupayakan semaksimal mungkin Oktober sudah clear selesai proyeknya,” tegasnya.

Taufik memastikan tidak terjadi bentrokan antara warga dan pihak pelaksana proyek. Situasi berhasil dikendalikan setelah aparat turun langsung dan membuka ruang dialog.

“Tidak ada hal yang tidak kita inginkan terjadi. Segera membubarkan diri, komunikasi, diskusi, koordinasi komunikasi, tercapai kesepakatan,” katanya.

Ia menegaskan Forkopimcam akan terus mengawasi pelaksanaan kesepakatan tersebut agar aksi serupa tidak kembali terjadi.

Menurut Taufik, persoalan utama bukan mobilitas truk, melainkan debu yang mengganggu warga. Kondisi kemarau juga membuat persoalan debu semakin parah.

Saat ini, jalan di Desa Jagabaya masih dalam proses betonisasi. Aparat memastikan pelaksanaan kesepakatan dengan warga akan terus dimonitor untuk menjaga situasi tetap kondusif.