Warga Pidie Jaya Meninggal Akibat Panik Hoaks Tsunami, Penyebar Isu Diamankan

1 Desember 2025 17:29 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Pidie Jaya Meninggal Akibat Panik Hoaks Tsunami, Penyebar Isu Diamankan
Muhammad (73), warga Gampong Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, meninggal dunia setelah diduga mengalami serangan jantung saat ikut menyelamatkan diri.
kumparanNEWS
Keluarga berdiri disamping jenazah Muhammad (73), warga yang meninggal dunia setelah diduga mengalami serangan jantung saat kepanikan massal akibat hoaks tsunami di Pidie Jaya, Senin (1/12/2025). Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga berdiri disamping jenazah Muhammad (73), warga yang meninggal dunia setelah diduga mengalami serangan jantung saat kepanikan massal akibat hoaks tsunami di Pidie Jaya, Senin (1/12/2025). Foto: Istimewa
ADVERTISEMENT
Di tengah bencana banjir bandang dan longsor, terjadi kepanikan massal akibat kabar bohong (hoaks) tentang tsunami di pesisir Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada Senin (1/12) dini hari.
ADVERTISEMENT
Kabar hoaks ini memakan korban jiwa.
Muhammad (73), warga Gampong Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, meninggal dunia setelah diduga mengalami serangan jantung saat ikut menyelamatkan diri.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB ketika warga berteriak histeris menyebut air laut naik. Spontan ribuan warga dari berbagai gampong (desa) melarikan diri ke arah pegunungan dalam kondisi gelap, terburu-buru, dan penuh kepanikan. Banyak warga terpeleset, terjatuh, hingga mengalami luka-luka.
Pemandangan drone menunjukkan tim penyelamat menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi warga di permukiman yang terdampak banjir setelah hujan deras di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, Indonesia, 27 November 2025. Foto: REUTERS/Hidayatullah Tajuddin
Warga tentunya ingin menyelamatkan diri karena Kabupaten Pidie Jaya juga termasuk salah satu wilayah Aceh yang terkena tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004.
Pidie Jaya merupakan salah satu dari sekitar 18 kabupaten/kota di Aceh yang terdampak bencana longsor-banjir akibat cuaca eksrem yang dipicu Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025.
ADVERTISEMENT

Muhammad Punya Sakit Jantung

Keluarga korban membenarkan bahwa Muhammad memiliki riwayat penyakit jantung dan ikut panik mendengar teriakan warga.
Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Sjafrie Sjamsoeddin menghadiri langsung lokasi terdampak banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (29/11/2025). Foto: Kemenhan RI
“Bapak berusaha lari menyelamatkan diri saat mendengar orang-orang berteriak air laut naik. Di tengah jalan bapak terjatuh dan tidak lama kemudian tidak sadarkan diri,” kata anak korban.
Muhammad sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.
Pihak keluarga berharap aparat menindak tegas penyebar hoaks yang memicu kepanikan hingga menyebabkan korban jiwa. Desakan serupa juga datang dari warga yang sempat mengungsi dalam kondisi kacau.

Polisi Amankan Lima Terduga Penyebar Hoaks

Sat Reskrim Polres Pidie Jaya mengamankan lima terduga penyebar hoaks tsunami yang memicu kepanikan warga pada Senin (1/12/2025). Foto: Dok. Istimewa
Kasat Reskrim Polres Pidie Jaya, Fauzi Atmaja, saat dikonfirmasi Senin (1/12) membenarkan pihaknya telah mengamankan lima warga yang diduga menyebarkan isu bohong terkait naiknya air laut di Desa Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua.
ADVERTISEMENT
Kelima terduga pelaku yang diamankan adalah DH (38), petani, warga Lhok Sandeng, MZ (23), mahasiswa, Lhok Sandeng, Nazaruddin (22), mahasiswa, berdomisili di Langsa, RA (19), mahasiswa, Ulim, M (50) seorang ibu rumah tangga, warga Lhok Sandeng.
Kelimanya kini ditahan di ruang Sat Reskrim Polres Pidie Jaya untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Polisi masih mendalami motif penyebaran isu tersebut, termasuk kemungkinan adanya tindakan iseng yang berujung pada kepanikan luas.
Hingga sore ini, situasi di lokasi sudah berangsur tenang. Namun warga berharap kejadian serupa tidak terulang dan meminta pemerintah meningkatkan sistem peringatan bencana yang jelas agar tidak mudah terpancing informasi palsu.