Warga Rusia yang Kabur Akibat Invasi ke Ukraina Dilarang Pulang ke Tanah Air
·waktu baca 2 menit

Eks Presiden Rusia dan sekutu dekat Vladimir Putin, Dmitry Medvedev, menyebut warganya yang melarikan diri ke negara lain akibat operasi militer khusus di Ukraina sebagai 'musuh masyarakat'.
Medvedev bahkan melarang mereka kembali ke Rusia selama sisa hidupnya. Hal itu ia sampaikan pada Rabu (28/12), seraya mengacu pada istilah ‘musuh masyarakat’ yang kerap digunakan di era Uni Soviet.
Kala itu, istilah tersebut membenarkan berbagai eksekusi, deportasi, hingga pemenjaraan di bawah pemerintahan mantan pemimpin Soviet Josef Stalin.
"Pengkhianat yang sangat membenci negara mereka sendiri sehingga mereka menyerukan kekalahan dan kehancurannya harus kehilangan hak mereka untuk kembali ke tanah air mereka dan terputus dari ‘sumber pendapatan’ mereka di Rusia," kata Medvedev, seperti dikutip dari The Moscow Times.
Menurut Medvedev, kepulangan orang-orang yang melarikan diri dari Rusia hanya dapat diterima jika mereka melakukan permintaan maaf secara publik secara tegas terlebih dahulu. Dalam kasus tertentu, mereka dapat menerima amnesti atau pengampunan.
Sebagai politikus, Medvedev dengan retorikanya menjadi lebih ekstrem dalam setahun terakhir.
Ia mengeluarkan pernyataan mengenai pelarangan warga yang beremigrasi untuk kembali ke Rusia saat majelis rendah parlemen memperdebatkan kenaikan pajak bagi warga Rusia yang tinggal di luar negara.
Menurut data yang dihimpun The Bell, lebih dari sejuta orang Rusia telah beremigrasi ke berbagai negara lain sejak invasi ke Ukraina dimulai pada Februari 2022.
Di antaranya terdapat 100.000 spesialis teknologi informasi meninggalkan Rusia karena situasi ekonomi dan politik yang memburuk serta untuk menghindari mobilisasi militer yang diperintahkan Putin pada September lalu.
Penulis: Thalitha Yuristiana.
