Warga soal Anak Tewas Dianiaya Ibu Tiri: Setiap Hari Disiksa, Mata Merah, Bonyok
·waktu baca 2 menit

Muhammad Arrasya Alfarizky (6) di usianya yang seharusnya asyik bermain dan belajar, harus menyimpan pedih luka akibat disiksa ibu tirinya, Rita Novita Sari (30). Ia tewas terbujur kaku di dalam kamar usai dihantam berulang kali oleh wanita tersebut.
Sebelum Arrasya menghembuskan napas terakhirnya pada 19 Oktober 2025 pukul 08.00 WIB, sejumlah warga sudah curiga dengan kondisi anak piatu itu.
Yuni, salah satu tetangga, mengatakan warga sekitar kerap melihat korban dengan luka baru di tubuhnya. Ia meyakini penyiksaan ini sudah lama dilakukan Rita.
“Katanya dari awal Oktober, padahal enggak. Dari awal sebelum pindah ke sini. Setiap hari tanpa ada liburnya,” kata Yuni di Griya Citayam Permai, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Rabu (23/10).
Menurut Yuni, keluarga Arrasya sebelumnya sudah tiga kali pindah rumah sebelum akhirnya menyewa kontrakan di Griya Citayam Permai (GCP).
“Dari di tiang 2, lalu pindah ke Desa Rawa Panjang. Pindah lagi ke kontrakan dekat sini, di Jalan Kampung Kelapa, terus ke GCP terakhir,” ungkapnya.
Korban Selalu Senyum saat Ditanya soal Luka di Tubuhnya
Ketika Arrasya masih tinggal di Jalan Kampung Kelapa, Yuni sering melihat anak itu bermain di luar rumah dengan wajah lebam.
Bahkan Yuni pernah melihat mata Arrasya tak seperti biasanya. Bola matanya hitam agak kemerahan. Mulutnya juga diduga sering dibekap ibu tirinya, itu terlihat dari memar di wajah anak itu.
“Anaknya sering dikeluarin main waktu di Kampung Kelapa. Mukanya memang sudah bonyok,” katanya.
Itu anak bukan pas tiga hari disiksanya, tapi hampir tiap hari. Memang sehari-hari sudah ‘normal’, tiap hari tanpa libur disiksa. Matanya hitam, dalamnya merah, pipinya biru. Di sebelah kanan dan kiri bibir, ada bekas disekap saking nahan sakit. Kalau dia nangis malah ditambahin (dihajar),"
Setiap kali ditanya, Arrasya memilih tersenyum dan menyimpan rapat kekejaman ibu tirinya itu.
“Setiap ditanya ‘Rasya kenapa?’ jawabnya senyum aja, besoknya lebam lagi. Katanya kejedot atau jatuh di kamar mandi,” kata Yuni.
Menurutnya, pelaku Ria Novita Sari (30), juga kerap memberikan alasan serupa. “Kalau ditanya, jawabannya enggak bisa diam, jumpalitan, makanya benjol,” tambahnya.
Yuni menuturkan, selama ini ia dan warga sekitar tak pernah mendengar suara tangisan dari dalam rumah Arrasya.
Suatu waktu, ia pernah melihat Arrasya menangis. Ini merupakan hal yang tak pernah dilihatnya. Selama ini Arrasya selalu tersenyum. Peristiwa itu pada Senin (13/10), saat Yuni menawarkan untuk mengantar bocah itu pulang dari PAUD.
“Tumben-tumbennya dia nangis. Biasanya enggak pernah. Ternyata dia bilang kakinya sakit,” tandas Yuni.
