Warga soal Sasana Tinju di Jaktim: Dulu Tiap Weekend Tawuran, Kini Berkurang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana sasana tinju di kolong jalan layang kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana sasana tinju di kolong jalan layang kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Jakarta Timur menjadi salah satu wilayah di Jakarta yang kerap terjadi kasus tawuran. Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, mengatakan angka tawuran di Jakarta Timur mencapai 132 kejadian sepanjang tahun 2025.

Namun masuk tahun 2026, angka tawuran mencapai 55 kejadian. Meskipun tahun ini belum selesai, namun peristiwa tawuran terasa berkurang. Hal itu karena keberadaan sasana tinju di kolong flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Kondisi itu dirasakan Nabil (22), seorang pemuda di sekitar sasana. Keberadaan sasana itu menurutnya bagus untuk anak muda supaya tidak tawuran.

“Buat kegiatan anak muda sih baik. Ngurangin juga [tawuran] kalau di daerah mari ya khususnya. Terasa banget tuh,” ujar Nabil saat ditemui, Senin (18/5).

Suasana sasana tinju di kolong jalan layang kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Ia mengatakan tawuran sering kali terjadi saat malam di akhir pekan. Namun kini hal itu sudah tak ditemukannya lagi.

“Sebelumnya ya hampir tiap malam Sabtu, malam Minggu ada aja tawuran. Kalau sekarang jarang udah. Malam Sabtu, malam Minggu enggak ada tuh, udah hampir enggak pernah tawuran di daerah sini,” tuturnya.

Kondisi ini terjadi karena keberadaan komunitas Jakarta Militan Fight yang mengelola sasana ini. Kata salah satu pelatih sasana tersebut, Yance (48), mengatakan komunitas ini terdiri dari berbagai kelompok.

“Jakarta Militan Fight ini kan sebuah komunitas ya. Komunitas yang dari gabungan beberapa gangster-gangster. Gabungan untuk kelola camp,” ungkap Yance.

Ia menyebutkan warga sekitar merasa resah atas kondisi di wilayah tersebut yang kerap kali terjadi tawuran. “Sering sekali tawuran di sini. Sampai-sampai kalau udah tawuran pasti macet total tuh,” katanya.

Suasana sasana tinju di kolong jalan layang kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Keberadaan Jakarta Militan Fight kemudian memberikan pengaruh atas berkurangnya tawuran. Yance menyebutkan hal itu karena banyak anggota gangster Jakarta Timur bersatu dalam komunitas tersebut.

“Banyak juga dari mereka itu kan senior-seniornya ada di geng ini, ada di camp ini juga pada latihan di sini. Ya alhamdulillah pada turun [angka tawuran] gitu,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan sasana tinju ini bukanlah memindahkan ketegangan tawuran ke ring. Justru yang terjadi terbentuk rasa sportivitas yang memperkuat ikatan persaudaraan.

“Alhamdulillah enggak ada clash. Karena kan begini ya, namanya sportivitas itu kan secara enggak langsung membentuk sebuah persaudaraan. Kita latihan bareng-bareng, masa iya kita di luar berantem lagi,” ucap Yance.

“Persaudaraan makin kenceng,” imbuhnya.

Ia pun berharap dengan keberadaan sasana ini dapat menjadi medium anak muda untuk menyalurkan energi. Sehingga tawuran pun dapat berhenti.

“Mudah-mudahan ke depan energi-energi positif yang enggak kebendung nih dari anak muda bisa tersalurkan. Jadi stop lah tawuran. Udah enggak masanya lagi,” ucap Yance.

“Kalau mau, ayo one-by-one kita naik ke atas ring,” sambungnya.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat meninjau dan meresmikan sasana tinju di kolong jalan layang kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Sebelum ada sasana ini, Munjirin selaku Wali Kota sempat mengumpulkan kelompok pelaku tawuran. Mereka pun meminta agar dibuatkan sasana tinju ini.

“Kita bergabung dengan kurang lebih 9 kelompok. Kita kumpulkan, cukup dari masing-masing kelompok itu membawa sekitar 10 atau 15 anggota. Dari pembicaraan dan kumpul tersebut akhirnya permintaan dari mereka itu dibuatlah namanya ring tinju untuk latihan,” ungkap Munjirin.

Sasana tinju ini pun kemudian dibangun pada 12 Januari 2026 dan selesai pada 28 Januari. Kini, komunitas Jakarta Militan Fight-lah yang mengelola sasana dan menggelar latihan rutin.