Warga Surabaya Ngeluh Air PDAM Berwarna Kecoklatan dan Bau

Sejumlah warga Kota Surabaya mengeluhkan penurunan kualitas air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang berubah keruh hingga mengeluarkan bau. Keluhan tersebut dirasakan sejak Minggu (6/9) hingga Senin (7/9).
Pantauan kumparan, air PDAM di rumah pelanggan kawasan Baratajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya, terlihat keruh pada Senin (7/9). Air yang keluar dari keran berwarna cokelat. Terlihat pula endapan tanah lembut di bak mandi rumah warga.
Salah satu pelanggan, Hilmi, mengatakan air PDAM di rumahnya mulai berubah keruh kecokelatan sejak Minggu (6/9) siang.
"Dari kemarin airnya keruh. Ya mandi pakai air kayak gini," kata Hilmi saat dikonfirmasi, Senin (7/9).
Keluhan serupa disampaikan warga Kebraon, Kecamatan Karangpilang, Azwa (23). Ia mengatakan air PDAM di rumahnya juga berubah keruh sejak Minggu hingga Senin (7/9).
"Airnya keruh aja sih, enggak yang bau atau berbusa. Dia keruh agak kuning gitu sejak kemarin sampai sekarang," kata Azwa.
Ia mengaku kurang nyaman dengan kondisi air PDAM di rumahnya. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain dan tetap menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
"Sebenarnya jujur agak enggak nyaman sih, tapi gimana lagi kalau tidak dipakai terus kita pakai apa," ucapnya.
"Cuma sejauh ini masih saya pakai mandi, masih aku pakai cuci-cuci. Dari kemarin sampai hari ini enggak ada reaksi alergi atau gimana, kayak gatal-gatal atau apa, enggak," lanjutnya.
Azwa mengakali kondisi tersebut dengan memasang kain pada keran bak mandi agar kotoran dalam air dapat tersaring.
"Kalau lihat bentukan warnanya kan kayak enggak nyaman karena takutnya kayak kotor apa gimana," kata dia.
"Jadi antisipasinya cuma ngasih filter semacam kain penyaring di keran air, meskipun enggak terlalu ngaruh banget," imbuhnya.
PDAM Sebut Akibat Polutan dari Hulu
Sementara itu, Manajer Tata Usaha dan Humas Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya, Louis Andilun Gatu, mengatakan masalah tersebut berkaitan dengan kualitas air baku yang diterima pihaknya dari Perum Jasa Tirta (PJT).
"Jadi, yang seperti di media sosial kemarin itu kan murni dari air baku kami. Yang tahun-tahun sebelumnya kami bisa menangani limbah polutan, namun kemarin itu kami tidak ada konfirmasi dan pemberitahuan dari Jasa Tirta. Ternyata ada yang membuang limbah tinggi polutan," ujar Louis kepada kumparan.
Louis mengatakan pihaknya tidak mendapat koordinasi maupun pemberitahuan awal terkait kondisi air baku tersebut. Menurut dia, hal itu berkaitan dengan sistem pemantauan terhadap pembuangan limbah industri ke aliran sungai.
"Kami beli airnya dari Jasa Tirta, air yang kami olah itu bukan air gratis dari sungai. Ketika kami beli, kami berhak menuntut air sesuai kualitas yang diharapkan. Ternyata air yang didapat kemarin tidak sesuai dan jelek banget kualitasnya, sehingga kami susah mengolahnya," ujarnya.
Terpisah, Manajer Produksi Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karangpilang PAM Surya Sembada, Didik Hariyanto, menjelaskan berdasarkan informasi dari Perum Jasa Tirta I, polutan tersebut diidentifikasi berasal dari air baku Sungai Kali Surabaya di kawasan hulu. Aliran tersebut membawa residu material dan busa.
"Secara visual busa pada air baku sudah berangsur mereda siang (6/9). Namun, unit instalasi kami tetap perlu di-recovery menyeluruh untuk membersihkan sisa polutan. Kami memohon maaf atas kendala kualitas yang dirasakan pelanggan, dan kami imbau air yang masih keruh tidak langsung dikonsumsi hingga air kembali normal," ujar Didik.
Untuk menormalisasi kualitas air, Perumda Air Minum Surya Sembada menjalankan sejumlah langkah penanganan terpadu.
