Wartawan Jepang Meninggal Karena Kelebihan Kerja Ratusan Jam

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi para pencari kerja di Jepang (Foto: Reuters/Yuya Shino)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi para pencari kerja di Jepang (Foto: Reuters/Yuya Shino)

Peristiwa tragis terjadi di Jepang. Seorang jurnalis perempuan Miwa Sado (31) meninggal dunia karena kelebihan bekerja.

Sado meninggal dunia pada 2013 lalu. Meski kurang lebih empat tahun berselang, media tempatnya bekerja NHK baru mengumumkan penyebab kematiannya pada tahun ini.

Hasil investigasi menyebut, Sado kelebihan kerja sebanyak 159 jam. Parahnya lagi, ia hanya diberi libur dua kali dalam sebulan kerja.

Sado pun kehilangan nyawa akibat gagal jantung karena kelelahan kerja. Kantor Standard Ketenaga Kerjaan Jepang sudah mengumumkan kematian Sado diakibatkan kelebihan waktu bekerja atau dalam bahasa Jepang disebut Karoshi.

Sado bergabung dengan NHK pada 2005. Dia bertugas untuk meliput pemerintahan daerah di Tokyo.

Ilustrasi Bekerja (Foto: StartupStockPhotos)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bekerja (Foto: StartupStockPhotos)

Perempuan itu meninggal dunia tiga setelah sidang pemilihan Majelis Tinggi Tokyo selesai, demikian dilansir dari The Star, Jumat (6/10).

Laporan media Jepang Kyodo menyatakan, NHK sebenarnya mencatat laporan pribadi waktu bekerja Sado melalui sistem kartu jam kerja. Namun, mereka mengakui adanya kelalaian dan memerlukan perbaikan.

Pejabat Senior di Departemen News NHK, Masahiko Yamauchi mengatakan, insiden tersebut bukan masalah pribadi. Tetapi, persoalan perusahaan secara keseluruhan. Termasuk di antaranya, sistem kerja dan bagaimana cara peliputan.

"Hingga hari ini, empat tahun berselang, kami masih tidak bisa menerima kematian anak perempuan kami (Sado) sebagai sesuatu yang nyata," ucap Yamauchi.

Masalah serupa pernah terjadi di Jepang pada 2015 lalu. Seorang karyawan muda perusahaan periklanan terbesar di Negeri Matahari Terbit Dentsu, Matsuri Takahashi meninggal bunuh diri akibat kelebihan kerja.

Perdebatan keras muncul usai Takahashi meninggal. Banyak warga Jepang menyatakan budaya kerja tidak sehat telah berlangsung dalam waktu lama.

Masalah tersebut membuat Direktur Umum Denntsu Tadashi Ishii mengundurkan diri. PM Jepang Shinzo Abe menegaskan, akan segara memperbaiki kondisi kerja negaranya.