kumparan
7 Juni 2018 8:20

Wasiat Cucu Sultan Aceh Terakhir Sebelum Wafat: Rakyat Harus Bersatu

Pemakaman cucu terakhir Sultan Aceh
Pemakaman cucu terakhir Sultan Aceh (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Pewaris Kesultanan Aceh, Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam meninggal dunia pada 21 Ramadhan 1439 H, di usia ke-85. Sultanah Putroe menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), sekitar pukul 06.45 WITA, Rabu (6/5).
ADVERTISEMENT
Sebelum wafat, cucu dari Sultan Aceh terakhir Sultan Muhammad Daodsyah itu, sempat meninggalkan pesan untuk rakyat Aceh. Sultanah Putroe meminta agar rakyat Aceh bersatu mewujudkan kedamaian dan kemakmuran.
“Beliau tetap ingin Aceh ini makmur damai dan tidak ada keributan atau apa pun lagi di sini. Ibunda ingin rakyat Aceh itu bersatu seperti sedia kala,” kata Pocut Meurah Neneng, anak dari Sultanah Putroe, di Kompleks Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (Baperis), Banda Aceh, Rabu (6/6) malam.
Pocut Meurah mengatakan, sebelum wafat Sultanah Putroe tidak mengalami gejala apapun. Hanya saja Sultanah Putroe sempat tidak mau makan.
“Tidak ada sakit apapun cuma dua hari sebelum beliau meninggal kondisinya agak lemas,” ucapnya.
Pemakaman cucu terakhir Sultan Aceh
Pemakaman cucu terakhir Sultan Aceh (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Selain itu, Sultanah Putroe sempat memberikan amanah lain kepada rakyat Aceh. Namun amanah tersebut akan dibahas terlebih dahulu oleh pihak keluarga, sebelum disebarluaskan kepada rakyat Aceh.
ADVERTISEMENT
“Amanah tetap masih ada, tapi ya kita tidak bisa ngomong di sini dulu karena harus berumbuk keluarga besar dulu. Namanya amanah, kan harus kumpul keluarga dulu setelah itu baru bisa kita keluarkan ke publik,” kata Pocut Meurah.
Sultanah Putroe dimakamkan sekitar pukul 22.30 WIB di Kompleks Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (Baperis), Banda Aceh. Lokasi ini merupakan kompleks makam Sultan Iskandar Muda dan makam Sultan Besar Sultan Mansur Syah.
Pemakaman cucu terakhir Sultan Aceh
Pemakaman cucu terakhir Sultan Aceh (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Sebelum dimakamkan, Sultanah Putroe terlebih dahulu disalatkan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh oleh para jemaah di sela-sela ibadah salat tarawih, kemudian di bawa ke Pendopo Gubernur Aceh.
Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Cahya Nur Alam merupakan anak dari Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daodsyah. Sementara Sultan Muhammad Daodsyah merupakan Sultan Aceh Darussalam yang terakhir, yang memimpin perang melawan Belanda.
ADVERTISEMENT
Pada 2017, Teungku Putroe sempat dipanggil Presiden Jokowi untuk menerima gelar pahlawan nasional yang diberikan negara untuk Laksamana Malahayati. Plakat gelar pahlawan itu diterima langsung Teungku Putroe sebagai ahli waris dari Laksamana Malahayati.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan