Wasiat Jurnalis Al Jazeera Anas yang Dibom Israel: Aku Titipkan Palestina Padamu
·waktu baca 4 menit

Jurnalis adalah salah satu kelompok yang ditarget Israel selama agresi militernya di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Terbaru, pasukan Zionis membom tenda kru Al Jazeera di Kota Gaza, Minggu (10/8) malam waktu setempat. Lima orang tewas, termasuk jurnalis terkemuka Anas Al-Sharif (28 tahun).
Jauh hari, Anas sudah tahu dirinya menjadi sasaran Israel karena berita-beritanya yang menggambarkan kekejian Israel, yang menggema di dunia. Karena itu dia mempersiapkan wasiat tertulis yang akan diunggah di media sosial oleh orang dekatnya jika mati syahid akibat dibunuh Israel.
Pada Senin (11/8) pagi WIB, wasiat itu sudah dimuat di akun medsosnya. "Inilah yang diminta Anas tercinta untuk dipublikasikan saat syahidnya," tulis pengunggah.
Wasiat Anas ditulis pada 6 April 2025, berikut bunyi lengkapnya:
Ini wasiat dan pesan terakhirku. Jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku. Pertama-tama, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah untukmu.
Allah Maha Tahu bahwa aku telah memberikan setiap usaha dan seluruh tenagaku untuk menjadi penopang dan suara bagi bangsaku, sejak aku membuka mata di lorong-lorong dan jalan-jalan kamp pengungsi Jabalia. Harapanku adalah Allah memanjangkan umurku agar aku bisa kembali bersama keluarga dan orang-orang yang kucintai ke kota asal kami, Asqalan (Al-Majdal) yang kini diduduki. Namun kehendak Allah datang lebih dahulu, dan ketetapan-Nya adalah pasti.
Aku telah menjalani kehidupan penuh penderitaan dalam semua rinciannya, merasakan pahitnya kehilangan berkali-kali, namun tak sekali pun aku ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan—agar Allah menjadi saksi atas mereka yang memilih diam, yang menerima pembunuhan kami, yang mencekik napas kami, dan yang hatinya tak terguncang oleh sisa-sisa tubuh anak-anak dan perempuan kami yang berserakan, tanpa berbuat apa pun untuk menghentikan pembantaian yang telah dihadapi bangsa kami selama lebih dari satu setengah tahun.
Aku titipkan Palestina kepadamu—permata mahkota dunia Muslim, detak jantung setiap orang merdeka di dunia ini. Aku titipkan rakyatnya, anak-anaknya yang terzalimi dan tak berdosa, yang tak pernah sempat bermimpi atau hidup dalam rasa aman dan damai. Tubuh mereka yang suci hancur di bawah ribuan ton bom dan rudal Israel, tercabik-cabik dan berserakan di dinding-dinding.
Aku mendesakmu untuk tidak membiarkan rantai membungkam suaramu,tidak membiarkan batas-batas menahan langkahmu. Jadilah jembatan menuju pembebasan tanah dan rakyatnya, hingga matahari kemuliaan dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dirampas.
Aku titipkan keluargaku kepadamu. Aku titipkan putri tercintaku, Sham, cahaya mataku, yang tak sempat kubesarkan seperti yang kuimpikan.
Aku titipkan putraku yang kucintai, Salah, yang kuharapkan bisa kudampingi dan kudukung hingga ia cukup kuat untuk memikul bebanku dan melanjutkan misi ini.
Aku titipkan ibuku yang kucintai, yang doa-doanya membawaku sampai ke titik ini, yang munajatnya menjadi bentengku dan cahayanya membimbing jalanku. Aku berdoa agar Allah memberinya kekuatan dan membalasnya atas jasaku dengan sebaik-baik balasan.
Aku juga titipkan pasangan hidupku, istriku tercinta, Umm Salah (Bayan), yang telah dipisahkan dariku selama berhari-hari dan berbulan-bulan karena perang. Namun ia tetap setia pada ikatan kami, teguh seperti batang pohon zaitun yang tak pernah patah—sabar, percaya kepada Allah, dan memikul tanggung jawab di saat aku tiada dengan seluruh kekuatan dan keimanannya.
Aku mendesakmu untuk berada di sisi mereka, menjadi penopang mereka setelah Allah Yang Maha Tinggi. Jika aku mati, aku mati dalam keteguhan pada prinsipku. Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa aku ridha pada takdir-Nya, yakin akan bertemu dengan-Nya, dan percaya bahwa apa yang ada di sisi Allah adalah yang terbaik dan kekal.
Ya Allah, terimalah aku di antara para syuhada, ampunilah dosa-dosaku yang lalu dan yang akan datang, dan jadikan darahku sebagai cahaya yang menerangi jalan kebebasan bagi bangsaku dan keluargaku.
Maafkan aku jika aku pernah lalai, dan doakan aku dengan rahmat, karena aku telah menjaga janji dan tak pernah berpaling atau mengkhianatinya.
Jangan lupakan Gaza… Dan sertakan aku dalam doa tulusmu agar Allah mengampuni dan menerima amal-amalku.
Anas Jamal Al-Sharif
06.04.2025
