Waspada Akun Robot di Facebook dan Twitter di Tahun Politik

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perusahaan media sosial Facebook. (Foto: Dado Ruvic/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Perusahaan media sosial Facebook. (Foto: Dado Ruvic/Reuters)

Media sosial menjadi salah satu alat propaganda, kampanye, penggalangan opini, dan sederet macam lainnya. Publik Amerika Serikat sudah membuktikan saat pemilihan presiden lalu ketika Hillary Clinton bertarung dengan Donald Trump.

Belakangan, hasil penyelidkan mengungkapkan bahwa akun robot di media sosial baik twitter atau Facebook yang terafiliasi dengan Rusia bermain di Pilpres AS.

Berkaca dari kasus di Amerika Serikat (AS), amat sangat mungkin terjadi kasus serupa di Indonesia. Dalam siaran pers Center for Strategic Development Studies (CSDS), Senin (12/3), media sosial disalahgunakan untuk memanipulasi opini publik.

CSDS dalam diskusi internal mengundang sejumlah pakar, antara lain Rudi Lumanto (Ketua ID-SIRTII, komunitas keamanan siber) dan Adiseno (mantan anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia), dengan moderator Sapto Waluyo.

Rudi Lumanto membeberkan penelitian terkini dari Samuel Woolley dan Philip Howard tentang propaganda komputasional berskala global.

Riset itu mengamati penggunaan media sosial di sembilan negara (Rusia, Taiwan, Brazil, Kanada, China, Jerman, Polandia, Ukraina dan Amerika Serikat) untuk mempengaruhi opini publik. Simpulannya, kebohongan dan misinformasi yang diproduksi media tradisional telah diamplifikasi secara online dan didukung algoritma Facebook serta Twitter.

Ilustrasi Twitter. (Foto: REUTERS/Kacper Pempel)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Twitter. (Foto: REUTERS/Kacper Pempel)

"Di Russia, 45 persen akun Twitter aktif ternyata robot, termasuk yang konon digunakan untuk mempengaruhi pemilihan umum di AS tahun 2016 hingga memenangkan Donald Trump dan menyingkirkan Hillary Clinton," beber Rudi.

Kasus intervensi itu kemudian menjadi perdebatan hangat di negeri Paman Sam. Sedang di Taiwan, ribuan akun media sosial yang sangat terkoordinasi tapi tidak sepenuhnya robot, digunakan untuk menyerang Presiden Tsai Ing-wen yang berbeda pandangan dengan pemimpin RRC.

"Akun robot atau terkontrol itu menciptakan ilusi tentang popularitas dunia maya, termasuk isu yang dianggap penting dan genting," beber dia.

Sementara Adiseno sepakat media sosial dapat mempengaruhi opini publik, bahkan bisa menggerakkan revolusi sosial, seperti pernah terjadi di Iran tahun 2009. Ketika itu, pemilihan presiden di Iran yang menghadapkan dua kandidat: Mahmoud Ahmadinejad versi Mir Hossain Mousavi.

“Kecaman dan umpatan dalam media sosial sangat tinggi terhadap petahana Presiden Ahmadinejad menjelang Pemilu (12 Juni 2009). Bahkan, hasil pemilu yang memenangkan petahana dinilai penuh kecurangan. Namun, setelah pemerintah mengendalikan oposisi dan peringatan ulang tahun Revolusi Islam (11 Februari 2010), justru kecaman tertuju kepada Mousavi," ungkap Adiseno, yang menamatkan doktor bidang platform mobile di Royal Institute of Technology (KTH), Swedia.

Dan moderator Sapto Waluyo menyimpulkan perhatian harus diberikan untuk memproduksi konten positif di media sosial, agar tidak berkembang ujaran kebencian atau provokasi untuk konflik. Selain itu, jalur distribusi untuk menyebarkan konten itu juga harus terbuka dan dapat diakses semua pihak.

“Saat ini, pengguna internet di Indonesia sangat tergantung pada platform yang dikuasai produsen asing. Padahal, aplikasi yang dikembangkan programer domestik cukup banyak, namun kurang didukung,” simpul Sapto.