Waspada Grup Chat Diduga Bermuatan Pedofil-LGBT: Add Siswa SD-SMP Random

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Whatsapp. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Whatsapp. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Sejumlah orang tua siswa di Jakarta dibuat waspada setelah mengetahui adanya grup WhatsApp bernama “Add People As Much As You Can” yang mengundang siswa secara acak. Grup tersebut disebut telah beranggotakan lebih dari 1.000 orang dan mulai tersebar ke sejumlah sekolah.

Salah satu orang tua siswa, Yuda Fajrin, mengatakan anak-anak dari jenjang SD hingga SMP terlihat berada di dalam grup tersebut. Ia mengetahui keberadaan grup itu setelah anak salah satu rekannya yang masuk ke dalam grup.

“Jadi lagi ngumpul turnamen bola terus kawan saya ya salah satu bapak itu ngomong, “eh lu udah tahu belum ada grup ini?”. Gitu, terus grupnya apaan tuh? “Add People As Much As You Can” gitu. Dia sesuai dengan nama grupnya, anaknya dia karena udah dikasih handphone di-add lah sama orang yang sesama Al Jabr juga. Sesama siswa juga di-add nih. Akhirnya dia masuk dong,” kata Yuda saat dikonfirmasi kumparan, Selasa (1/9).

“Nah, akhirnya bapaknya nyuruh anaknya keluar karena mulai aneh-aneh ya maksud saya dengan kita LGBT itu udah aneh lah ya menurut kita ya,” tambahnya

Yuda menyebut dalam grup itu terdapat voting di grup yang membahas orientasi seksual.

“Mereka tuh dengan sangat liberal santainya tuh kayak "yuk siapa yang lesbian" divoting gitu "siapa yang gay, siapa yang normal" gitu-gitu,” ujarnya.

Are you gay, lesbian, straight, or others?” demikian pertanyaan dalam voting yang dilihat Yuda di grup tersebut.

Ia menilai pembahasan semacam itu dikhawatirkan dapat memengaruhi anak-anak yang masih berada di usia sekolah dasar dan menengah.

Khawatir Indikasi Pedofilia

Ilustrasi pedofil. Foto: Shutter Stock

Yuda mengatakan, persoalan yang membuat orang tua khawatir bukan hanya mengenai pembahasan LGBT, tetapi juga soal siapa saja yang berada di balik akun-akun tersebut. Sebab, dari pengamatannya, terdapat anak SD dan SMP di dalam grup.

“Ya namanya juga WhatsApp ya, lo boleh bilang lo umur 10 tahun, lo boleh bilang umur 13 tahun padahal lo umur 25, nggak ada yang tahu kan. Nah, yang kita takut itu ini malah ada grup yang menyangkut pada pedofilia,” ujarnya.

Yuda juga menyebut anak-anak dari sekolah lain diduga ikut di-invite ke grup tersebut.

“Karena itu 1.000 kita nggak bisa pantau semua ya karena 1.000 orang ya cuma yang kita lihat itu anak SD ada, anak SMP ada gitu,” ujarnya.

“Ini udah mulai kesebar ke banyak sekolah,” tambahn Yuda.

Yuda menyebut pihak sekolah juga telah mengetahui persoalan tersebut. Orang tua siswa disebut telah menyampaikan informasi agar dilakukan pengecekan terhadap anak-anak yang kemungkinan masuk ke grup.

Orang Tua Siswa Lapor ke Polda Metro Jaya

Ilustrasi LGBT. Foto: ie27/Shutterstock

Selain itu, Yuda mengatakan, ada informasi dari orang tua siswa bahwa persoalan tersebut telah dilaporkan ke Unit Siber Polda Metro Jaya sejak Sabtu (29/8).

“Update info sejak Sabtu 29 Agustus isu ini sudah dilaporkan ke polisi dan saat ini laporannya sudah dijalankan oleh Unit Siber Polda Metro Jaya,” demikian informasi yang diterima Yuda dari salah satu orang tua siswa,” kata dia.

Yuda menilai perlu ada penelusuran lebih lanjut untuk memastikan apakah grup tersebut sekadar ruang percakapan, aktivitas phishing/scam, atau memiliki tujuan lain yang dapat membahayakan anak.

“Yang random diinvite. Yang kita masih nggak tahu sekarang ini modusnya apa tujuannya apa endingnya tuh apa gitu,” tutupnya.

Polda Metro Jaya Selidiki

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto di Polda Metro Jaya, Jumat (7/8/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Polda Metro Jaya saat dikonfirmasi mengatakan, saat ini pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan terkait informasi tersebut.

"Direktorat Reserse Siber dan Direktorat Reserse PPA-PPO Polda Metro Jaya saat ini sedang melakukan penyelidikan terkait informasi tersebut," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto saat dikonfirmasi kumparan.

Untuk mengantisipasi terjadinya hal yang lebih jauh, Polda Metro Jaya berkoordinasi dengan pihak sekolah dan memberikan edukasi tentang bahaya penyebaran konten berbau pornografi.

"Sebagai langkah pencegahan, Polda Metro Jaya juga akan berkoordinasi dengan pihak sekolah serta memberikan edukasi kepada para siswa mengenai bahaya penyebaran konten pornografi, pergaulan berisiko, dan penggunaan media sosial secara aman serta bertanggung jawab," tutupnya.