WHO: 61% Fasilitas Kesehatan di Ibu Kota Sudan Tutup Akibat Perang Saudara

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Orang-orang berjalan melewati toko-toko yang tutup di Khartoum, Sudan, Selasa (18/4/2023). Foto: Marwan Ali/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang berjalan melewati toko-toko yang tutup di Khartoum, Sudan, Selasa (18/4/2023). Foto: Marwan Ali/AP Photo

Lebih dari 60 persen fasilitas kesehatan di Ibu Kota Sudan, Khartoum, ditutup akibat perang saudara.

"Di ibu kota, Khartoum, 61 persen fasilitas kesehatan ditutup dan hanya 16 persen yang beroperasi seperti biasa," kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers dari markas besar badan kesehatan PBB di Jenewa, dikutip dari AFP, Kamis (27/4).

Adapun perang saudara di Sudan melibatkan militer pimpinan Abdel Fattah Al-Burhan melawan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RFS) pimpinan Hamdan Daglo.

Berdasarkan laporan WHO lebih dari 400 orang tewas dan ribuan orang terluka sejak pertempuran di Sudan. Bahkan 5 korban tewas merupakan pekerja yang bertugas memberikan bantuan makanan kepada penduduk Sudan. Perang tersebut pecah pada Sabtu (15/4).

Laboratorium Nasional Diduduki

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP/PIERRE ALBOUY

WHO saat ini juga tengah melakukan penilaian terhadap ancaman yang timbul terhadap kesehatan masyarakat setelah laboratorium nasional diduduki oleh pejuang Sudan. Sebab lab tersebut menyimpan sampel sejumlah penyakit mematikan.

"Kami juga prihatin bahwa mereka yang menempati laboratorium tersebut dapat secara tidak sengaja terpapar patogen yang disimpan di sana," kata Tedros.

"WHO sedang mencari lebih banyak informasi dan melakukan penilaian risiko," sambungnya.

Komentar Tedros ini disampaikan sehari setelah gencatan senjata 72 jam.

Pada Selasa lalu, perwakilan WHO di Sudan, Nima Saeed Abid, mengatakan bahwa pendudukan terhadap sebuah laboratorium telah menciptakan situasi yang "sangat, sangat berbahaya".

"Ada risiko biologis yang sangat besar terkait dengan pekerjaan di pusat laboratorium kesehatan masyarakat," kata dia.