Yang Menelan Pahit Sistem Zonasi Sekolah

Dua tahun lalu, Lidia, bukan nama sebenarnya, harus mengubur mimpi. Lulus dari sekolah menengah pertama negeri (SMPN) favorit di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, ia membidik dua sekolah menengah atas negeri (SMAN) terkemuka di kawasan yang sama untuk melanjutkan pendidikan. Berbekal nilai ujian nasional yang lumayan, Lidia pede bisa masuk ke sekolah impian.
Tapi harapannya menguap. Kurang sebulan menjelang pendaftaran sekolah, Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Muhadjir Effendy, meneken Peraturan Menteri nomor 17 tahun 2017. Beleid ini mengubah cara seleksi sekolah negeri dari mengacu ke peringkat nilai ujian nasional menjadi berdasarkan jarak sekolah dengan rumah calon siswa. Mekanisme ini dikenal dengan sistem zonasi.
Dua sekolah impian Lidia terletak di zona berbeda dengan rumahnya. Dengan sistem zonasi, harapan Lidia masuk sekolah favorit pupus. "Nilai ujian nasional itu juga enggak guna sama sekali, percuma ngungkut (mati-matian) buat UN," kata Lidia.
Di zona yang melingkupi rumahnya hanya ada sekolah yang tergolong biasa-biasa saja--kalau tidak bisa dibilang jelek. "Takdir" memaksanya masuk ke sana. SMA itu, menurut Lidia, identik dengan murid-murid nakal. Saking malunya menjadi siswa di sana, Lidia selalu berusaha menutupi asal sekolah tiap ada orang yang menanyakan.
"Kecewa banget waktu itu, rasanya itu kayak enggak semangat sekolah, enggak mau masuk ke sekolah," kenang Lidia.
Bayangan berada di sekolah bergengsi dengan persaingan akademis dengan sesama murid pupus. Di sekolahnya sekarang, Lidia justru menemukan banyak hal "ganjil". Di sana, contek-menyontek adalah hal lazim. Kelas selalu berisik saat ujian. "Gurunya itu tau kalau siswa-siswanya itu pada contek-mencontek tapi dibiarin," ungkap Lidia.
Ia punya banyak keluhan lain. Kompetensi guru bahasa Inggris, misalnya, yang bahkan tak becus melafalkan kata. Lidia berani mengadu kemampuan berbahasa Inggris dengan guru itu.
Ada lagi seorang guru mata pelajaran yang tidak pernah masuk ke kelas. Dia malah mengajak muridnya kongkalikong. "Nanti kalau ditanya guru lain bilang pak guru sudah mengajar," kata Lidia menirukan ucapan guru tadi.
Si guru tak pernah memberikan ujian. Ajaibnya, semua siswa di kelas Lidia mendapat nilai 90 di rapor untuk mata pelajaran yang diampu guru tadi. "Kan kasian kalau misalnya ada yang pinter terus kita enggak belajar nilainya sama aja sama yang bodoh kan kasian," keluh Lidia.
Satu waktu, Lidia ditunjuk mewakili sekolah dalam penyisihan olimpiade sains nasional (OSN). Ia dipilih karena mendapat nilai ujian akhir semester tertinggi untuk mata pelajaran yang dikompetisikan. Pemberitahuan Lidia akan mewakili sekolah baru disampaikan sepekan sebelum penyisihan OSN dimulai.
Semangat Lidia mempersiapkan diri pun tak mendapat dukungan dari guru mata pelajaran. Alih-alih memberikan bimbingan, guru itu malah menjatuhkan mentalnya. "Paling ini kalah. Yang penting ikut serta. Menang enggak menang enggak urusan," katanya menirukan pernyataan si guru.
Ia tak memungkiri masih ada guru bagus yang idealis di sekolahnya. Mereka benar-benar serius mengajar. Tapi, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Masalah lain adalah lingkungan di sekolah Lidia yang tidak kondusif. Kebanyakan siswa, menurutnya, tak punya semangat belajar. Teman-temannya cenderung cuek bila mendapat nilai jelek. Bila Lidia belajar tekun di kelas, dia malah diledek teman-temannya.
"Jadi juga ikut terbawa. Sekolah itu mangkat (berangkat)-pulang, mangkat-pulang," ia berujar. Suasana itu berbeda 180 derajat dengan sekolah Lidia sebelumnya. Situasi yang tak menguntungkan membuat nilai-nilai Lidia jeblok.
Ia agak terlambat menemukan motivasinya. Lidia baru bertekad mengejar ketertinggalan ketika sadar tahun ini masuk di kelas 12. Ia ingin melanjutkan pendidikan di universitas negeri setelah lulus SMA. Ditambah lagi, ia kasihan melihat orang tuanya.
"Kalau nilai-nilai saya gitu-gitu terus kan kayak kasian kan," katanya. "Yang bikin semangat itu orang tua."
Lidia tak berharap banyak dengan mengandalkan guru-guru yang tak kompeten mengajar di sekolahnya. Ia memilih mengambil kelas di bimbingan belajar. "Jadi harus diimbangi sama les-les di rumah. Ngebut, harus ngejar di les-lesan," ia bertekad.
Apa yang dialami Lidia menunjukan belum meratanya pendidikan di Indonesia. Ada sekolah yang benar-benar bagus, ada pula yang tidak. Banyak variabel yang menentukan, dari kualitas guru, infrastruktur dan lainnya. Pakar pendidikan Arief Rachman berpendapat realitas ini merupakan tantangan terbesar penerapan zonasi.
Sistem zonasi diakuinya sukses diterapkan di negara maju seperti Singapura hingga Jepang. Tapi Arief mengingatkan, kualitas pendidikan di negara-negara itu sudah merata, berbeda jauh dengan Indonesia. Sarannya, sistem zonasi tidak diterapkan sekaligus seperti yang ditempuh pemerintah saat ini.
"Sistem zonasi itu harus dilakukan secara bertahap. Tidak bisa sekaligus langsung," pendapatnya.
Pemerintah harus lebih dulu meningkatkan kualitas dan penyebaran komponen pendidikan. Dengan begitu, tak ada kesenjangan yang terlalu jauh saat sistem zonasi diterapkan.
"Harus ada pelatihan ke guru-guru di sekolah-sekolah yang nantinya bisa menjamin mutu dari sekolah-sekolah di zona atau di daerah itu," Arief menjelaskan.
Dampak Bagi Sekolah
Penerapan sistem zonasi tak cuma berdampak pada siswa. Sekolah juga mulai mengalami perubahan. SMAN 8 Jakarta, yang merupakan salah satu sekolah "unggulan", mengalami penurunan peringkat dari segi akademis sejak sistem zonasi diterapkan tahun 2017.
"Kita bisa bilang turun perlahan-lahan. Kita biasanya antara peringkat 1 atau 2 di Jakarta. Sekarang agak bergeser sedikit," kata Roni Saputro, Wakil Kepala Sekolah SMA 8, meski ia tak hafal persis angkanya.
Zonasi tempat SMAN 8 berada tahun ini meliputi lima kecamatan yakni, Pancoran, Tebet, Setia Budi, Matraman, dan Jatinegara. Pada 2016, sebelum sistem zonasi diberlakukan, nilai UN terendah murid yang masuk SMA 8 di angka 37. Artinya, nilai rata-ratanya di atas sembilan. Sejak zonasi diterapkan, nilai rata-rata siswa yang masuk SMA 8 praktis turun.
Terlebih, ada kuota siswa untuk kelompok afirmasi, yang berasal dari keluarga tidak mampu. SMA 8 menerima siswa dari kelompok ini berapa pun nilai UN-nya. Alhasil, nilai siswa SMA 8 semakin heterogen, tak melulu didominasi siswa dengan kemampuan akademis yang baik.
Tapi, Roni menegaskan justru tantangan itu menjadi tugas guru sebagai pendidik. SMA 8 punya strategi untuk mengatrol siswa dari kelompok afirmasi. Yang pertama dilakukan adalah dengan memberi mereka motivasi.
Sekolah juga menunjuk tutor-tutor pembimbing dari sesama siswa buat mereka. Kalaupun hasilnya tak bisa sejajar dengan yang lain, menurut Roni, minimal siswa dari kelompok afirmasi punya spirit belajar. "Kita sudah melihat setahun ini ada perbedaan intelektual ini. Jadi kita pacu terus usahanya," Roni menekankan.
Tantangan serupa juga dihadapi SMA 1 Depok, yang tergolong unggulan di wilayahnya. Sejak sistem zonasi ditetapkan, kemampuan siswa baru dari sisi akademis semakin beragam. Roslina, humas SMAN 1 Depok mengatakan guru di sekolahnya punya prinsip, "Tidak ada anak pintar tidak ada anak bodoh."
Tugas guru adalah mendidik. Masuknya siswa baru dengan beragam kemampuan akademis, membuat guru SMAN 1 berusaha beradaptasi. "Mungkin kami pendekatannya harus punya strategi baru, punya langkah-langkah yang harus kami perbuat," papar Rosalina.
Di SMAN 1 Depok, latar belakang siswa baru akan didalami. Guru akan memberi pendekatan tertentu yang sesuai dengan kondisi siswa. Mereka yang kurang dari sisi akademis akan diberi bantuan konseling untuk menambah semangat belajar. Rosalina menambahkan, siswa tersebut juga diberi pendalaman materi agar tak jauh tertinggal dari teman-temannya.
Persoalan lain yang terasa adalah belum terbiasanya siswa baru dari jalur zonasi dengan ritme belajar di SMAN 1 Depok. Belum lagi masalah kesenjangan budaya yang muncul di antara siswa.
"Jetlag itu pasti ada. Jadi kita tetap berusaha menjembatani siswa, memberi pengertian," kata Rosalina. Dengan pendekatan seperti itu, sejak sistem zonasi diberlakukan tiga tahun lalu, SMAN 1 Depok masih bisa mempertahankan kualitas sekolah.
Simak ulasan selengkapnya di topik riuh sistem zonasi sekolah.

