Yerusalem Memanas: 200 Ribu Yahudi Ultra-Ortodoks Demo Tolak Wajib Militer

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga Yahudi Ultra-Ortodoks mengikuti aksi protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, Kamis (30/10/2025). Foto: Ammar Awad/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga Yahudi Ultra-Ortodoks mengikuti aksi protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, Kamis (30/10/2025). Foto: Ammar Awad/Reuters

Ratusan ribu orang dari kelompok Yahudi ultra-Ortodoks yang biasa disebut Haredi turun ke jalanan Yerusalem pada Kamis (30/10) waktu setempat. Mereka memprotes rencana wajib militer oleh pemerintah Israel.

Perdebatan mengenai wajib militer selalu menjadi topik panas di Israel. Bahan pro-kontra adalah soal siapa yang berhak mendapat pengecualian.

Pada Kamis, jalanan kota Yerusalem penuh sesak dengan massa. Demonstran, yang mayoritas laki-laki, memadati pintu masuk utama Yerusalem.

Sejumlah warga Yahudi Ultra-Ortodoks mengikuti aksi protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, Kamis (30/10/2025). Foto: Ammar Awad/Reuters

Massa berpakaian setelan dan topi ultra-Ortodoks. Akibat kehadiran massa dengan jumlah sangat besar lalu lintas di sana lumpuh. Media-media Israel melaporkan aksi demonstrasi sekurang-kurangnya diikuti 200 ribu orang.

“Saat ini, mereka yang menolak masuk tentara akan dibawa ke penjara militer,” kata seorang demonstran Shmuel Orbach seperti dikutip dari Reuters.

Sejumlah warga Yahudi Ultra-Ortodoks mengikuti aksi protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, Kamis (30/10/2025). Foto: Ammar Awad/Reuters
Sejumlah warga Yahudi Ultra-Ortodoks mengikuti aksi protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, Kamis (30/10/2025). Foto: Ammar Awad/Reuters

“Sebenarnya itu tak terlalu buruk. Tapi kita ini adalah negara Yahudi. Kalian tak bisa melawan Yudaisme di dalam negara Yahudi. Itu tak akan berhasil,” tegas Orbach.

Di Israel, mahasiswa seminari ultra-Ortodoks sudah lama dibebaskan dari wajib militer. Namun, warga Israel menganggap langkah itu tak adil karena wajib militer dibebankan ke mahasiswa lain.

Kekecewaan makin meningkat akibat pecah perang Gaza selama dua tahun serta serangan ke Lebanon dan Suriah. Pasalnya, jumlah tentara Israel yang tewas menyentuh rekor tertinggi dalam sejarah.

Sejumlah warga Yahudi Ultra-Ortodoks mengikuti aksi protes "Million Man" terhadap wajib militer Israel di Yerusalem, Kamis (30/10/2025). Foto: Am Kadosh/Reuters

Kendati menuai tekanan, pemimpin ultra-Ortodoks bersikeras menolak mahasiswanya ikut wajib militer. Alasannya mereka ditugaskan mempelajari kitab suci penuh waktu.

Para pemimpin tersebut khawatir wajib militer membuat pemuda Yahudi jauh dari kehidupan religius.