Yosua Tewas, Ajudan hingga Driver Ferdy Sambo Keluar Grup WA

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Irjen Ferdy Sambo (tengah) bersama sejumlah ajudan. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Irjen Ferdy Sambo (tengah) bersama sejumlah ajudan. Foto: Dok. Istimewa

Sejumlah ajudan serta driver Ferdy Sambo disebut langsung keluar dari grup WhatsApp tak lama usai Brigadir Yosua tewas. Yosua tewas ditembak di Duren Tiga pada 8 Juli 2022.

Lantaran banyak yang meninggalkan grup, Bripka Ricky Rizal kemudian membuat grup baru. Ricky ialah ajudan paling senior Ferdy Sambo secara kepangkatan.

Grup baru yang diberi nama 'Duren Tiga' itu dibuat pada 11 Juli 2022 atau 3 hari usai Yosua tewas. Kuasa hukum Ricky Rizal, Zena Dinda Defega, membenarkan soal grup tersebut.

Terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua Hutabarat, Ricky Rizal (kanan) tiba untuk menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (19/12/2022). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Zena menjelaskan bahwa sebelum Yosua tewas, sudah ada grup dengan nama yang sama yakni Duren Tiga. Ia menyebut grup tersebut adalah wadah komunikasi antara pekerja Ferdy Sambo dengan para ajudannya. Putri Candrawathi pun ada di dalamnya.

Menurut Zena, grup ini berbeda dengan grup ABS (Anak Buah Sambo) yang disebutnya hanya berisi ajudan.

"Grup [Duren Tiga] itu grup yang ada semua isi rumah, FS-PC [Ferdy Sambo-Putri Candrawathi], karena kalau grup ABS (anak buah sambo) itu yang cuma ajudan aja. Tapi kalau 'Duren Tiga' itu ada FS dan PC-nya. Ada semua ART, ajudan, driver, FS-PC," kata Zena kepada wartawan, Selasa (20/12).

Namun setelah tewasnya Yosua, semua anggota grup itu keluar. Meski demikian, Zena tak menjelaskan lebih jauh alasan mereka keluar.

Foto alm. Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Foto: kumparan

Karena sudah tidak ada anggotanya, Ricky kemudian membuat grup baru dengan nama yang sama, 'Duren Tiga'. Anggotanya juga termasuk Sambo dan anak buahnya.

Soal adanya grup tersebut diungkapkan oleh Adi Setya selaku ahli digital forensik yang dihadirkan dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Adi Setya yang merupakan bagian dari Direktorat Tindak Pidana Siber Polri itu diminta keterangan sebagai ahli untuk Ferdy Sambo dkk di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (19/12).

Terdakwa kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Richard Eliezer bersiap menjalani sidang lanjuutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (21/11/2022). Foto: Fauzan/ANTARA FOTO

Dalam keterangannya, Adi menyebut bahwa Richard Eliezer sempat masuk dalam grup tersebut. Namun tak sampai sehari, Eliezer dikeluarkan.

Zena menyebut hal tersebut dilakukan karena Eliezer ganti nomor.

"Jadi grup awal itu nama tetap 'Duren Tiga', tapi karena pasca-Yosua sudah meninggal, semua orang di grup itu pada left grup. Makanya Ricky bingung gimana mau laporan-laporan. Jadi dibuatkan Ricky lagi," papar Zena.

"Di situ ada Richard juga, tapi Richard left karena Richard ganti nomor. Makanya, kemarin saat kami perjelas beberapa orang yang ada di grup, lebih dari 7, kalau disebutkan banyak," pungkas Zena.

Dari keterangan Adi Setya, berikut nama-nama anggota grup tersebut:

  • Richard Eliezer

  • Ricky Wibowo

  • Damson Koban,

  • Daden

  • Irjen Ferdy Sambo

  • Putri Candrawathi

  • Diryanto

  • Kuat Ma'ruf

  • Kontak WhatsApp atas nama SMD

  • Kontak WhatsApp atas nama Tuhan Yesus

  • Alfanzu

  • Sadam

  • Kontak WhatsApp Atas nama Gusti Sejati

  • Prayogi Iktara

  • Kontak WhatsApp atas nama AR 19

  • Kontak WhatsApp atas nama WTK 46.

Meski telah ditemukan grupnya, tapi Adi tidak bisa memperlihatkan percakapan yang ada di grup Sambo dan anak buahnya. Ia menyebut karena obrolan di grup itu sudah dihapus.

Kontrak-kontak WhatsApp dan sejumlah percakapan itu, kata Adi, ditranskrip dari barang bukti ponsel yang disita oleh penyidik. Dari barang bukti nomor 2850/STP, ponsel milik Richard Eliezer.

Sambo dkk ialah terdakwa kasus pembunuhan berencana Yosua. Pembunuhan dipicu emosi Sambo yang mendapat laporan Yosua melecehkan Putri Candrawathi.