Yuddy Chrisnandi Minta Jadi Dubes ke Jokowi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Jokowi melantik para Dubes di Istana (Foto: Dok. Biro Pers Istana)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi melantik para Dubes di Istana (Foto: Dok. Biro Pers Istana)

Presiden Joko Widodo siang ini melantik 17 duta besar Indonesia untuk ditempatkan di negara sahabat, salah satunya Yuddy Chrisnandi. Seusai dilantik, Yuddy mengaku sempat meminta posisi dubes kepada Jokowi.

Permintaan ini disampaikan kepada Jokowi pada 26 Juli 2016 atau saat Jokowi menyampaikan pencopotan Yuddy di Istana. Saat itu, kata Yuddy, Jokowi menanyakan apakah Yuddy bersedia ditempatkan di posisi lain setelah dicopot dari kabinet.

"Saya diberitahukan bahwa saya tidak lagi menjadi menteri dalam kabinet beliau. Beliau menanyakan apakah berkenan untuk tugas yang lain dan saya sampaikan sekiranya diberi kepercayaan, saya bersedia menjadi dubes di negara mana pun yang dipercayakan," ujar Yuddy seusai dilantik menjadi dubes di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (13/3).

Ternyata permintaan itu langsung disanggupi oleh Jokowi. Namun, saat itu, Presiden belum menentukan di negara mana Yuddy akan ditempatkan. Yuddy baru tahu akan menjadi Dubes Indonesia untuk Ukraina merangkap Georgia dan Armenia pada November 2016.

"Dan Bapak Presiden memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk negara sahabat di Ukraina merangkap Georgia dan Armenia," tuturnya.

Politikus Hanura ini bersyukur bahwa setelah melalui proses yang panjang sejak bulan Desember dan fit and proper test di DPR, ia akhirnya dilantik oleh Presiden. Yuddy mengaku memiliki waktu 30 hari sebelum pindah ke Ukraina untuk bertugas.

Dalam menunaikan tugasnya sebagai dubes, Yuddy mengaku akan mempromosikan Indonesia dengan kekayaan alam dan keindahan Indonesia. Ia juga akan mengoptimalkan diplomasi yang terbilang masing minim di Ukraina, Armenia, dan Georgia.

"Tantangan terbesarnya bagaimana mensosialisasikan Indonesia di forum internasional khususnya di tiga negara yang sangat minim intensitas komunikasi diplomasinya," tuturnya.