3 Alasan Penunggang Moge Selalu Dicap Arogan

28 Februari 2023 9:15 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi pengendara Moge di Jakarta. Foto: Bay Ismoyo/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengendara Moge di Jakarta. Foto: Bay Ismoyo/AFP
ADVERTISEMENT
Praktisi keselamatan berkendara Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana mengungkap beberapa penyebab pengendara motor gede (moge) kerap dilabeli arogan dan kelompok eksklusif.
ADVERTISEMENT
Menurutnya ada beberapa faktor yang membuat beberapa orang jadi bertingkah arogan di jalan raya ketika menggunakan moge. Musababnya tak jauh dari fisik motor yang ditampilkan.
“Pertama itu dikarenakan bodi motornya yang besar di jalanan sehingga menimbulkan persepsi bahwa mereka berhak diprioritaskan,” buka Sony ketika dihubungi kumparan (27/2).
Kemudian yang kedua, lantaran alasan teknis. Karena menggendong mesin dengan kubikasi besar, maka mesin moge bisa menghasilkan panas berlebih dalam kondisi stop and go. Utamanya untuk moge yang sistem pendingin mesinnya masih pakai sistem aliran udara.
Ilustrasi pengendara Moge di Jakarta. Foto: Ahmad Zamroni/AFP
Ini yang menyebabkan pengguna moge selalu butuh ruang untuk bisa terus bergerak. Supaya mesin tetap dalam temperatur ideal dan menghindari overheat. Namun caranya kadang sampai harus menerobos lampu merah.
ADVERTISEMENT
“Apalagi enggak jarang dikawal oleh petugas. Petugas polisi bisa lakukan diskresi dalam artian dia bisa buka jalur, menerobos lampu lalu lintas ketika melakukan pengawalan. Ini kadang menimbulkan persepsi arogan,” jelas Sony.
Lalu ketiga, faktor eksklusifitas dilihat dari harga motor-motor tersebut. Sony bilang, tak jarang karena status banderol motornya, membuat pengendara memandang beda yang menggunakan motor lebih kecil.
“Motornya harganya mahal jadi melihat orang yang stratanya kecil atau di bawah dia, ya. Merasa kalau mereka punya hak lebih prioritas dibanding yang motornya kecil. Padahal, jalan raya milik semua dan harus saling empati,” pungkasnya.
Meski begitu, perilaku arogan pengendara moge sejatinya kembali kepada setiap individu dan tidak bisa menggeneralisir semua pemilik moge di Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Ini enggak semuanya bisa digeneralisasi ya tapi kembali ke individu masing-masing. Ada kok orang bawa moge masih santai di Indonesia. Memang oknum-oknum ini yang kadang meresahkan ya,” tutup Sony.
***