kumparan
17 Sep 2019 8:33 WIB

4 Hal yang Bisa Mencegah Terjadinya Pecah Ban Mobil

Kecelakaan tunggal di KM 36+600. Foto: Dok. Jasa Marga
Kecelakaan tunggal mobil Suzuki APV di Tol Jagorawi KM 36+600 arah Jakarta, pada Minggu (15/9) pukul 08.30 WIB memakan 3 korban jiwa, sementara 6 orang lainnya mengalami luka-luka.
ADVERTISEMENT
Corporate Communication Department Head PT Jasa Marga, Irra Soenardi, mengatakan mobil mengalami pecah ban belakang, sehingga kendaraan oleng dan terguling.
Mengambil pelajaran dari kasus tersebut, perlu disadari betapa pentingnya ban mobil. Sebaiknya jangan lagi abai melakukan pengecekan dan perawatan secara rutin.
Manager of Training & Product Evaluation PT Bridgestone Tire Indonesia, Deni Arief Pribadi, mengungkapkan baik buruk kondisi ban sangat berpengaruh terhadap keselamatan berkendara.
Setidaknya ada empat hal yang bisa dilakukan, buat memastikan ban aman untuk digunakan.

1. Tekanan Angin

Pengetahuan dasar yang perlu diketahui pemilik mobil, yaitu mengetahui ukuran tekanan angin sesuai standar pabrikan. Terlalu rendah dan terlalu tinggi, akan beresiko negatif pada kendaraan. Jadi sebaiknya disesuaikan secara ideal.
Pemeriksaan ban mobil. Foto: www.edmunds.com
“Tekanan angin pada ban sangat penting, kalau tekanan anginnya kurang sudah pasti mobil akan terasa lebih berat yang membuat konsumsi bahan bakar tentunya akan menjadi boros,” ujarnya beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
Pengecekan tekanan angin pada ban, baiknya dilakukan setiap dua minggu sekali atau maksimum satu bulan sekali. Namun bila perlu dilakukan setiap hari juga tak ada masalah. Saat ini sudah banyak dijual alat untuk mengecek tekanan ban.

2. Kembangan ban

Perhatikan kebersihan kembangan atau alur ban. Saat mengecek kebersihan sela-sela ban, buanglah benda-benda asing yang biasanya terselip di sana, seperti batu kerikil atau benda asing lainnya yang tanpa disadari bisa saja menempel ketika berkendara.
1. Indikator TWI 2. Wear Bar ban mobil Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanOTO
Bila dibiarkan, benda-benda asing ini bisa berpotensi membuat ban menjadi bocor. Selain itu, dia pun bisa menutup permukaan dari alur ban, yang bisa menurunkan kemampuan cengkraman ban pada permukaan jalan.

3. Periksa kerusakan fisik ban

Lazimnya, hal ini bisa dilakukan pada saat melakukan servis berkala. Kerusakan yang terdapat di luar ban biasanya berupa sobekan atau retakan.
ADVERTISEMENT
Mengetahui sejak dini kerusakan ban akan lebih baik, sehingga bisa cepat melakukan penggantian atau berkendara lebih hati-hati. Namun memang semakin cepat diganti semakin baik.
Tapak ban mobil yang sudah botak Foto: Shutter stock
Bila sampai kerusakan tak terdeteksi, dikhawatirkan ban bisa pecah tiba-tiba sehingga berakibat fatal. Seperti kecelakaan yang baru saja terjadi.

4. Rotasi ban

Terakhir, ritual wajib yang harus dilakukan adalah merotasi ban secara rutin. "Baik ban utama maupun ban serep itu harus dirotasi paling tidak setiap 5.000 km sekali," ujar Deni.
Tujuan daripada merotasi sendiri, agar tingkat keausan pada keempat ban utama mobil kamu merata di tiap ban.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan