Akio Toyoda dan Cerita Lahirnya Century di Japan Mobility Show 2025

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Akio Toyoda di Japan Mobility Show 2025. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Akio Toyoda di Japan Mobility Show 2025. Foto: Istimewa

Japan Mobility Show 2025 dimanfaatkan Akio Toyoda untuk membuka kisah panjang tentang mobil yang bagi banyak orang menjadi simbol kebanggaan Jepang: Toyota Century.

Lebih dari sekadar kendaraan mewah, Century berdiri di puncak tertinggi filosofi monozukuri Jepang, sebuah seni menghasilkan sesuatu dengan dedikasi, ketepatan, dan jiwa.

“Saya percaya mobil ini lahir dengan membawa Jepang di pundaknya.”

Kisah Century berakar pada semangat pendiri Toyota, Kiichiro Toyoda, yang di tahun 1930-an yang berani menantang anggapan dunia bahwa Jepang tak mampu membuat mobil. Bagi Kiichiro, tujuannya bukan sekadar membangun perusahaan bernama Toyota, tetapi membangun industri otomotif Jepang.

Wujud Toyota Century di Japan Mobility Show 2025. Foto: Gesit Prayogi/kumparan

Tiga puluh tahun kemudian, semangat itu diteruskan oleh Kenya Nakamura, chief engineer pertama Toyota. Ia memimpin pengembangan Century yang dimulai pada tahun 1963, hanya 18 tahun setelah Perang Dunia II berakhir.

“Tradisi akan mengikuti dengan sendirinya. Mari kita ciptakan mobil mewah yang belum pernah ada sebelumnya.”

Nakamura tidak ingin meniru mobil-mobil Eropa. Ia ingin melahirkan mobil mewah dengan cara Jepang. Ia mengawinkan teknologi mutakhir dengan warisan budaya: ukiran logam bergaya Edo pada lambang burung phoenix, serta kain brokat Nishijin-ori dari Kyoto untuk pelapis kursinya.

Filosofinya sederhana namun dalam: to be like no other-- bukan seperti yang lain.

Dok. Istimewa

Dari generasi ke generasi, Century menjadi mobil favorit Shoichiro Toyoda, putra Kiichiro. Ia bahkan selalu memberi masukan kepada para insinyur, mulai soal kenyamanan suspensi hingga stabilitas ketika mobil dipacu. Shoichiro hanya melakukan itu untuk satu mobil --Century.

Century bagi keluarga Toyoda, bukan sekadar produk, tapi simbol dedikasi bangsa. Akio Toyoda meyakini bahwa di balik proyek Century, tersimpan semangat yang sama dengan cita-cita Kiichiro setelah perang: membangun “bangsa industri otomotif yang demokratis, berkontribusi untuk pemulihan damai Jepang dan bagi budaya dunia.”

Century pun lahir sebagai wujud kebanggaan Jepang -- simbol bahwa Jepang mampu bangkit dari kehancuran dan menunjukkan keanggunan dalam kesederhanaan.

Kini, lebih dari 50 tahun sejak Century pertama lahir, Jepang tidak lagi berada di masa “Japan as No.1”. Negeri sakura menghadapi apa yang disebut “tiga dekade yang hilang”, ketika energi dan kepercayaan diri bangsa tampak meredup.

Namun Akio Toyoda justru melihat alasan baru untuk menghadirkan Century.

“Dalam mitologi Jepang, phoenix hanya muncul ketika dunia berada dalam kedamaian,” ujarnya.

“Nama Century bukan sekadar nama mobil. Ia adalah harapan tulus untuk perdamaian dunia — dan tekad untuk membentuk seratus tahun berikutnya dari Jepang.”

Bagi Toyoda, Century bukan cuma soal merek di dalam Toyota Motor Corporation. Ia ingin menjadikannya merek yang membawa semangat Jepang ke dunia dan membuatnya sebagai simbol kebanggaan, keindahan, dan ketenangan yang tak lekang waktu.

“Atau seperti kata Nakamura, to be like no other,” katanya.

Century bukan hanya masa lalu Jepang. Bagi Toyoda mobil ini adalah awal dari seratus tahun berikutnya.

Wujud Toyota Century di Japan Mobility Show 2025. Foto: Gesit Prayogi/kumparan
Wujud Toyota Century di Japan Mobility Show 2025. Foto: Gesit Prayogi/kumparan