Alasan Sistem Pembayaran Tol Nirsentuh Tak Diterapkan Saat Mudik Lebaran
·waktu baca 2 menit

Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Mohammad Zainal memastikan penerapan sistem pembayaran tol nirsentuh, atau Multi Lane Free Flow (MLFF), belum diterapkan saat mudik lebaran nanti.
“Sistem yang baru itu kalau kami coba dengan situasi yang sempurna (sesuai realitasnya), malah bikin masalah baru. Karena, perubahan itu, kan enggak bisa, makanya kami uji coba dalam situasi terbatas dulu," katanya di seminar Kesiapan Regulasi dan Penegakan Hukum dalam Implementasi Sistem Bayar Tol Tanpa Henti.
Dikhawatirkan, penerapan MLFF bakal menimbulkan masalah di aspek lalu lintas. Apalagi, mobilitas mudik diprediksi mengalami kenaikan dibanding tahun lalu.
Menurut hasil survei potensi pergerakan libur Lebaran 2023 oleh Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub menunjukkan, ada potensi pergerakan nasional sebanyak 123,8 juta orang, atau 45,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia.
Mobil menjadi moda transportasi pilihan utama sebesar 27,32 unit, belum ditambah dengan mobil sewa 9,53 juta unit. Sementara, sepeda motor mencatatkan angka 25,13 juta unit.
Potensi pergerakannya dari kawasan Jabodetabek diprediksi mencapai 18,3 juta unit. Tentu, potensi macet dan penumpukan di rest area bisa terjadi.
“Selain itu, data registrasi kendaraan bermotor Indonesia itu 30 persennya belum sesuai. Ini potential loss-nya sangat tinggi. Tentu, penerapannya harus dipertimbangkan matang-matang,” ujarnya.
Diketahui, penerapan MLFF bertujuan untuk menghilangkan kemacetan di gerbang tol, hingga potensi tabrak belakang di gerbang tol. Pembayarannya dilakukan menggunakan aplikasi khusus jalan tol di smartphone (e-OBU), On Board Unit, maupun e-ticket.
Nantinya, lokasi pengguna jalan tol akan dimonitor dengan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS). Selain itu, ada gantry kamera dan mobil pengawas yang memotret pelat nomor kendaraan pengguna.
Sejauh ini, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sedang mempersiapkan uji coba sistem pembayaran nirsentuh nirhenti tersebut di Bali, pada Juni mendatang. Progress pekerjaan sudah tembus 50 persen.
"Yang di Bali belum komersial, untuk uji coba memastikan keandalan, baik alatnya, keandalan aplikasinya, gantry-nya, kameranya, dan integrasi data yang dimiliki sistem ini dengan kepolisian," tutup Zainal.
