Bahaya Microsleep saat Mudik dan Cara Mencegahnya
Sejumlah pemudik sudah memadati jalur-jalur utama khususnya di Jalur Pantura. Menempuh ratusan kilometer untuk berjumpa keluarga di hari raya membuat masyarakat Indonesia rela mengemudi jauh selama berjam-jam.
Secara teori, mengemudi disarankan paling lama tiga jam apabila kondisi jalanan lancar dan empat jam ketika macet. Segeralah istirahat bila sudah memenuhi waktu tersebut. Lalu, apa jadinya bila terlalu memaksakan?
Begini, semua manusia bisa mengalami gejala yang disebut microsleep -- kondisi di mana badan akan tidur sesaat -- apabila otak mengalami kelelahan.
Ketika otak lelah, segala input sensorik dari mata dan penglihatan tak dapat diproses. Microsleep hanya berlangsung beberapa detik dan Anda tidak akan bisa menyadari sedang merasakan gejala tersebut.
"Tidur itu harus bertahan selama satu atau dua menit agar otak bisa mengingat bahwa Anda dalam kondisi bangun tidur. Ketika microsleep Anda tidak akan sadar, (dalam kondisi itu) tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi dan sedang terjadi," jelas Direktur Pusat Penelitian Tidur di Universitas Loughborough, Jim Horne kepada BBC.
Mengalami gejala microsleep ketika berada di depan komputer atau televisi tentu tidak akan menimbulkan bahaya. Namun, apabila terjadi ketika mengemudi lain urusan.
Awal dari kecelakaan akibat human error
Menurut Medscape, microsleep ini menyebabkan terjadinya 1.500 insiden kecelakaan fatal di Amerika Serikat (AS) tiap tahunnya.
Lembaga keselamatan berkendara Inggris, Brake, mengungkap kondisi microsleep ini 44 persen dialami oleh laki-laki dan 22 persen oleh perempuan ketika berkendara.
"Gue pernah, enggak sadar mengemudi dan enggak tahu barusan lewat jalan mana dan kaget tiba-tiba sudah ada di tempat tertentu," kata seorang karyawati yang bekerja di Sunter, Jakarta Utara.
Nah, sebuah studi yang dilakukan di Jerman coba membuktikan soal gejala microsleep yang bisa dialami manusia. Mereka meminta sukarelawan mengemudi di simulator selama 40 menit dengan interval waktu pukul 01.00 dan 07.00 pagi.
Sukarelawan tak diperkenankan untuk mengambil istirahat dan hasilnya, dia mengalami microsleep. Mobil yang ia kendarai pun keluar jalur dan berpotensi kecelakaan.
Mencegah
Adapun, untuk mencegah terjadinya microsleep bisa ditangani dengan pola istirahat yang baik, yakni perlu 7-9 jam tidur tiap malam.
Dalam musim mudik seperti ini, Rifat Sungkar, pendiri Rifat Drive Labs -- penyedia jasa pelatihan berkendara defensive -- menyarankan pengemudi tidak memaksakan kondisi. Bila letih, segeralah istirahat.
"Saat posisi nyetir terus (jalanan lancar) tiap tiga jam sekali harus istirahat. Tapi, kalau kondisinya macet boleh empat jam sekali," kata Rifat beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan, faktor keselamatan harus menjadi prioritas pemudik. Jangan sampai karena mengejar waktu mengabaikan hal tersebut.
