Beda Aki Soak dan Lemah, Mana yang Bisa Dipertahankan?

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi muncul serbuk putih di kepala aki. Foto: dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi muncul serbuk putih di kepala aki. Foto: dok. Istimewa

Kendaraan yang sulit distarter karena aki yang bermasalah sering bikin panik pemiliknya. Dari kejadian itu, biasanya ada dua istilah yang kerap muncul: aki lemah atau aki soak. Terdengar serupa, tapi keduanya berbeda untuk menentukan kondisi mana yang harus dilakukan penggantian aki.

“Aki soak sudah tidak bisa dipakai lagi harus ganti. Kalau aki lemah masih bisa dicas cuma jangka pendek saja. Jika melebihi usia pakai, percuma aki dicas,” ungkap Kurniawan, pemilik Toko Aki WSB saat ditemui kumparan belum lama ini di Cilandak, Jakarta Selatan.

Menurutnya, perbedaan aki soak dan lemah dapat diketahui saat mengecek voltase. Aki soak tidak dapat diisi tegangannya sehingga harus ganti unit. Sementara aki lemah tegangannya masih bisa diisi, tapi hanya jangka pendek. Hanya saja kki yang dicas ulang tidak menjamin tegangan kembali normal.

Alat untuk melihat voltase di bengkel aki milik Kurniawan di Cilandak, Jakarta Selatan. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

“Sifatnya sementara, tidak bisa memastikan. Motor susah distarter berarti aki sudah lemah, apakah karena voltase turun atau rusak? Kalau abis dicas bisa starter itu karena aki masih panas dan tegangan tinggi, belum tentu motor dimatiin atau besok pagi bisa distarter lagi,” tambahnya.

Ia mengeklaim, aki soak tak bisa dipulihkan lewat pengecasan meski sumber tegangan yang digunakan besar. Dia bilang, lebih baik pemilik kendaraan mengetahui ciri-ciri aki bermasalah sebelum rusak total. Gejala yang paling umum adalah sulit distarter.

Sebagai mantan staf Quality Control (QC) Distributor Aki Amaron, Kurniawan menjelaskan bahwa tegangan aki normal berada di angka 12 volt saat mesin mati, dan sebesar 14 volt apabila mesin dinyalakan. Intinya, selain kedua angka tersebut berarti aki tidak normal.

Suasana bengkel aki milik Kurniawan di Cilandak, Jakarta Selatan. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

“Kalau dibawah 12 volt berarti tegangan aki kurang maksimal dan kalau di atas 14 volt itu pengisiannya berlebihan, mengakibatkan aki bisa kembung. Misalnya, aki bermasalah dan tegangan di angka 12 volt masih bisa di-jumper, kalau dibawah itu artinya sel aki udah putus,” terangnya.

Perlu diketahui, umumnya usia pakai aki cuma dua tahun. Apabila mengalami masalah sebelum usia pakai, sebaiknya pemilik kendaraan segera mengganti aki agar tidak menghambat perjalanan.

“Kalau rusak sebelum dua tahun, tapi mau dicas silakan asal motor ada kick starter, termasuk selahan CVT pada motor matik. Motor sekarang kan jarang ada selahan, lebih baik diganti akinya untuk menghindari mogok di jalan,” ujarnya.

Suasana bengkel aki milik Kurniawan di Cilandak, Jakarta Selatan. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

Lebih lanjut, Kurniawan menjelaskan aki soak tidak akan merusak sistem kelistrikan kendaraan sehingga pemilik tidak perlu khawatir. Aki yang tidak normal hanya menurunkan kinerja komponen kelistrikan.

“Aki soak enggak ngerusak komponen kelistrikan. Pandangan saya engga bikin listrik kendaraan korslet. Paling salah satunya enggak bisa klakson, lampu redup, segala macem,” imbuhnya singkat.

Adapun, Kurniawan membagikan tips untuk pemilik kendaraan agar aki tidak cepat tekor maupun soak. Pemilik motor diimbau memeriksa kondisi aki secara rutin untuk memastikan tegangan selalu normal. Sementara pemilik mobil, disarankan selalu memanaskan mesin bila jarang digunakan.

Ilustrasi aki hybrid. Foto: Istimewa

“Kalau motor dicek berkala saja. Untuk mobil kalau jarang dipakai ya dipanasin terus juga jangan jorok. Ada orang turun dari mobil terus komponen elektronik masih nyala. Ketika dinyalain lagi, itu nyedot arusnya tinggi bikin cepet tekor,” tuntas pria yang berkecimpung di bidang aki kendaraan sejak tahun 2011 itu.