Begini Proses Bikin SIM di Jepang, Mahal dan Harus Sekolah
·waktu baca 2 menit

Pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) di Jepang punya proses yang panjang dengan biaya yang terbilang mahal. Seorang warga negara Jepang yang bekerja di PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) sebagai Kepala Perencanaan Strategis, Ei Mochizuki, menceritakan pengalamannya dalam membuat SIM.
”Harus mengikuti driving school hampir satu bulan dengan ujian yang tidak mudah,” buka Mochi-san saat ditemui di Jepang belum lama ini.
Skema ujiannya pun meliputi tertulis dan praktik. Ia menuturkan bahwa untuk ujian praktik, pihak kepolisian setempat memiliki sirkuit simulasi yang merepresentasikan kondisi di jalan raya.
Lebih lanjut, pengemudi yang sudah memiliki SIM harus menjaga perilakunya saat berkendara di jalan, lantaran ada sistem poin yang bisa membuat SIM tersebut dinonaktifkan sementara.
”Kalau dalam setahun mencapai 6 poin, SIM akan di-suspend. Misal, mulai Januari sampai Desember 2025 mendapat 6 poin, maka akan di-suspend untuk 90 hari,” jelasnya.
”Tapi kalau (setelah dinonaktifkan) kita kembali ke sekolah, dapat kelas khusus, ada ujian, 30 hari sudah bisa kembali lagi,” tambahnya.
Menurutnya, sebelum membuat SIM memang harus mempelajari terlebih dahulu, meliputi teknik mengemudi dan lalu lintas. Sebab, hal ini menyangkut keselamatan dan keamanan di jalan.
Adapun wujud apresiasi bagi para pengemudi yang tidak melakukan pelanggaran sama sekali selama lima tahun, berupa SIM ‘Gold Card’.
”Jika lima tahun tidak ada accident, tidak ada pelanggaran, bisa mendapatkan Gold Card,” kata Mochi-san
Para pemilik SIM Gold Card akan mendapatkan keuntungan, yaitu cukup melakukan pembaruan atau perpanjang SIM setiap 5 tahun sekali. Sementara, SIM reguler atau Blue Card harus secara berkala setiap 3 tahun. Selain itu, biaya asuransi pun menjadi lebih murah.
Melakukan perpanjangan SIM di Jepang bukan hanya foto ulang dan cetak kartu seperti di Indonesia. Melainkan ada kelas belajar di sekolah mengemudi yang harus diikuti.
Menyoal biaya, pembuatan SIM di Jepang tidak murah. Masyarakat yang ingin memiliki SIM harus merogoh kocek sekitar 300 yen atau setara Rp 30 jutaan.
