Belajar dari Insiden Truk di Bekasi, Pakar Ingatkan Rutin Cek Spion

Fungsi kaca spion di posisi kiri dan kanan, juga tengah untuk mobil acap kali dinilai hanya memiliki peran untuk sekadar melihat kondisi di belakang kendaraan. Padahal, alat ini bisa jadi penyelamat dan antisipasi risiko lebih besar saat berkendara.
Ini belajar dari kasus kecelakaan yang melibatkan sebuah truk di Bekasi Timur, menabrak kerumunan mobil dan motor yang tengah menunggu di area rambu lalu lintas persimpangan. Akibatnya, sejumlah orang mengalami luka-luka dan satu di antaranya tewas.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengamati lokasi insiden yang berada di perempatan dekat Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi itu mirip dengan kondisi di area Gerbang Tol Ciawi, Bogor.
"Karakteristik yang sama yaitu terdapat segmen jalan menurun panjang, yang langsung berakhir pada titik konflik berupa gerbang tol atau persimpangan yang terdapat lampu lalu lintas harus diperlakukan sebagai high-risk zone," buka Yannes kepada kumparan, Selasa (30/6/2026).
Dari sini, pengemudi dituntut untuk mampu membaca situasi sekitar tidak hanya saat berkendara, tetapi juga ketika berhenti. Selain itu, harus dapat memahami kelengkapan dan fitur yang tersemat pada kendaraan, salah satunya kaca spion.
"Bagi pengguna jalan, saat berada lokasi high-risk zone seperti di atas, disarankan selalu waspada dengan memperhatikan kaca spion ketika berhenti di lampu merah. Berada di turunan panjang atau antre di gerbang tol, khususnya apabila terdapat truk atau bus besar yang datang dari arah belakang melalui jalan menurun," terang Yannes.
Yannes menambahkan, pastikan memiliki sisa ruang untuk manuver darurat bila ancaman atau marabahaya mengintai dan datang dari arah belakang. Sehingga bila dihadapkan skenario serupa di atas, peluang untuk menyelamatkan diri lebih terbuka lebar.
"Dalam ekosistem jalan yang tidak menjamin kita bebas dari lalu-lalangnya truk busuk ini, situational awareness tersebut dapat meningkatkan peluang menghindari tabrakan ketika terjadi kegagalan pengereman pada kendaraan berat. Walaupun tidak bisa menghilangkan ancaman tersebut," jelasnya.
"Intinya, selama masih terdapat kendaraan angkutan berat yang dioperasikan tanpa pemeliharaan dan pengawasan keselamatan yang memadai, kewaspadaan pengguna jalan menjadi lapisan perlindungan terakhir ntuk meminimalkan risiko menjadi korban," tandas Yannes.
Certified Safety Ride Driving Instructor, Gerry Nasution sebelumnya pernah mengingatkan bahwa peran kaca spion amat vital dan memiliki fungsi penting untuk memantau situasi di sekitar kendaraan dalam kondisi apa pun.
"Memang cukup sering terjadi seperti itu. Kita pengendara di Indonesia tidak memiliki budaya sering cek kaca spion, apalagi kalau lalu lintas sedang pelan atau macet biasanya akan 90 persen lebih berfokus ke depan," ujarnya kepada kumparan.
Menurutnya, mayoritas pengendara baru memanfaatkan fungsi kaca spion ketika hendak berpindah lajur pada kecepatan tinggi, memutar balik, saat mau berbelok, atau sedang parkir mundur. Sebab, situasi dinilai aman ketika lalu lintas tengah padat atau macet.
"Padahal contoh kecelakaan (tabrak belakang) saat situasi lalu lintas ramai atau macet sudah cukup sering terjadi. Seperti bus yang di Jawa Timur itu, sekilas cukup banyak pengendara di depannya tidak aware dengan situasi yang terjadi di belakangnya," jelas Gerry.
Gerry bilang, dengan rutin membaca situasi sekitar termasuk bagian belakang, pengendara lain akan mampu melakukan mitigasi dengan cepat untuk menghindar atau mengurangi risiko dampak kecelakaan. Seperti kasus bus rem blong misalnya.
"Jadi ada antisipasinya, tahu untuk menghindar dengan cara salah satunya menepi agar kendaraan yang mengalami situasi darurat seperti rem blong bisa dikasih lewat terlebih dahulu. Tidak cuma bus dalam konteks ini, tetapi apa pun kendaraan atau objek lain yang bisa membahayakan keselamatan kita," pungkasnya.
