Otomotif15 September 2020 15:31

Belajar dari Kecelakaan di Tanah Abang, Amankah Seorang Lansia Mengemudi?

Konten Redaksi kumparan
Belajar dari Kecelakaan di Tanah Abang, Amankah Seorang Lansia Mengemudi? (611031)
Kecelakaan lalu lintas di Tanah Abang. Foto: dok. Fathia
Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi, kini melibatkan sebuah mobil Nissan March bernomor polisi B 1088 PVJ yang menabrak beberapa pejalan kaki serta seorang pedagang ketoprak di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin (14/9) sore.
ADVERTISEMENT
Fathia, saksi yang berada di lokasi mengungkapkan, kecelakaan berawal dari mobil Nissan March yang dikemudikan oleh Syahrial Kabar berusia sekitar 70 tahun, melaju menurun dari arah fly over Karet menuju arah Tanah Abang.
Setiba di bawah, mobil tersebut pun hilang kendali dan menabrak sebuah gerobak ketoprak, serta beberapa pejalan kaki.
"Mobil itu jalan dari arah fly over turun, tau-tau hilang kendali saja menabrak tukang ketoprak dan pejalan kaki, pengemudinya sih sudah tua juga sepertinya sekitar 70 tahunan," ujar Fathia kepada kumparan.
Sementara itu, menurut Kasatlantas Polres Jakarta Pusat, Kompol Lilik Sumardi, berdasarkan hasil identifikasi penyebabnya diduga akibat hilangnya konsentrasi, berujung pada hilang kendali saat sedang melaju menurun.
"Dugaan sementara penyebab kecelakaan pengemudi kendaraan Nissan March B 1088 PVJ, kurang hati-hati dan konsentrasi dalam berkendara," ucap Lilik saat dikonfirmasi pada Senin (14/9).
ADVERTISEMENT
Akibat kecelakaan nahas itu, 3 orang mengalami luka-luka serius dan saat ini sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Belajar dari Kecelakaan di Tanah Abang, Amankah Seorang Lansia Mengemudi? (611032)
Kecelakaan lalu lintas di Tanah Abang. Foto: dok. Fathia
Selain menyebabkan beberapa orang luka-luka, kecelakaan tersebut juga turut menghancurkan gerobak ketoprak serta beberapa motor yang sedang terparkir.

Bolehkah seorang lansia tetap mengemudi?

Belajar dari kasus kecelakaan tragis tersebut, founder sekaligus instructor senior Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan kepada setiap pengemudi akan pentingnya memahami kemampuan dan kondisi kesehatan seorang pengemudi sebelum melakukan kegiatan mengemudi.
"Ketika kita mengemudi, banyak persyaratan yang kadang kala dilupakan oleh orang. Padahal, mengemudi di jalan raya itu merupakan kegiatan multitasking yang tidak hanya membutuhkan keterampilan mengemudi dan kepatuhan saja, namun juga konsentrasi tinggi, empati, emosi, kemampuan persepsi, dan tanggung jawab," jelas Jusri saat dihubungi kumparan Selasa (15/9) pagi.
Belajar dari Kecelakaan di Tanah Abang, Amankah Seorang Lansia Mengemudi? (611033)
Ilustrasi pengemudi yang pengllihatannya kurang baik. Foto: Autoexpress
Lebih lanjut, kata Jusri, seseorang yang sudah lanjut usia, sebenarnya tidak dilarang untuk mengemudi. Hanya saja, dengan situasi lalu lintas di Jakarta yang sangat padat terutama pada jam-jam sibuk, Jusri pun menyarankan kepada para pengemudi lansia untuk memikirkan kembali keputusannya untuk tetap mengemudi.
ADVERTISEMENT
Namun, lanjut Jusri, apabila seorang lansia tetap ingin mengemudi, sebaiknya perhatikan dahulu beberapa hal berikut ini.

Pentingnya memahami kondisi fisik dan mental diri sendiri

Sebelum mengemudi, seorang pengemudi lansia disarankan untuk melakukan penilaian kembali kepada kondisi dirinya sendiri, apakah fisik dan mentalnya layak atau tidak untuk mengemudi.
Yang bisa menilai aman atau tidaknya untuk mengemudi tentu dirinya sendiri. Apakah saat itu dia sedang dalam kondisi fit atau tidak, lalu apakah penglihatannya masih mumpuni atau tidak, dan yang tak kalah penting menyoal emosinya, apakah sedang dalam kondisi stabil atau tidak," beber Jusri.
Selain diri pengemudi itu sendiri, orang-orang di sekitarnya seperti keluarga juga bisa menjadi penilai apakah seorang pengemudi lansia tersebut aman atau tidak untuk mengemudi.
"Keluarganya atau anak-anaknya juga bisa memastikan apakah kondisi orang tuanya itu sedang dalam prima atau tidak, apakah masih aman atau tidak. Karena keluarga ini kan yang paling tahu kondisinya selain diri orang itu sendiri," ungkap Jusri.
Belajar dari Kecelakaan di Tanah Abang, Amankah Seorang Lansia Mengemudi? (611034)
Ilustrasi pasangan kesal saat tengah menyetir Foto: Shutter Stock

Jangan mengemudi apabila punya penyakit bawaan

Hal selanjutnya, kata Jusri, yang harus menjadi perhatian bagi seorang lansia sebelum mengemudi, yakni apakah dirinya memiliki penyakit bawaan atau tidak.
ADVERTISEMENT
Meskipun saat itu dirinya sedang dalam kondisi fit, Jusri tetap menyarankan untuk tidak mengemudi.
"Sebaiknya juga jangan nekat mengemudi apabila seorang lansia itu punya penyakit bawaan, seperti jantung, darah tinggi, diabetes, epilepsi, atau asma. Karena meskipun kondisi fisiknya sebelum berangkat dalam keadaan prima, ini tetap bisa berbahaya," terang Jusri.
Karena itu, Jusri pun mengatakan apabila seorang pengemudi lansia sedang dalam kondisi tidak prima atau memiliki penyakit bawaan, dirinya menyarankan agar tidak memaksakan diri untuk mengemudi.
Solusinya, pengemudi lansia itu bisa meminta antar kepada keluarga lain atau memanfaatkan kendaraan umum, seperti taksi konvensional atau taksi online.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white