Belajar dari Kecelakaan Tunggal 2 Mobil Sport di Medan, Jangan Asal Bisa Nyetir

11 Mei 2024 15:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas evakuasi mobil Porsche di Medan tabrak kantor Polrestabes Medan pada Rabu (8/5) pagi. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Petugas evakuasi mobil Porsche di Medan tabrak kantor Polrestabes Medan pada Rabu (8/5) pagi. Foto: Dok. Istimewa
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pendiri sekaligus pakar Instruktur Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu menyoroti dua kasus kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil sport di Medan baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
Ada dua kesamaan dari insiden tersebut yakni mobil yang menjanjikan performa tinggi, yakni Porsche Macan T dan Mercedes-Benz G63 AMG. Kemudian cara pengemudi mengendarai mobil tersebut, keduanya juga diduga dalam pengaruh alkohol.
"Kasus semacam ini untuk kendaraan dengan power besar itu cukup sering terjadi. Jadi bukan kali ini saja, pernah terjadi di Jakarta, Surabaya, kemarin di Medan," buka Jusri dihubungi kumparan, Jumat (10/5).
Menurutnya, membawa kendaraan dengan spesifikasi tinggi jelas sangat berbeda dibanding mobil biasa atau umum ditemui di jalan raya. Sebagai gambaran, Mercedes-Benz G63 AMG punya tenaga 577 daya kuda (dk) dan Porsche Macan T dengan tenaga 261,3 dk.
Kendaraan yang rusak imbas kecelakaan Mercy di Kota Medan, Rabu (8/5/2024). Foto: Dok. Istimewa
Ambil contoh bandingkan dengan mobil yang paling sering dijumpai di jalan Indonesia, Toyota Avanza 1.500 cc yang tenaganya berkisar 104,5 dk saja.
ADVERTISEMENT
"Mengemudikan kendaraan yang punya tenaga besar, itu sangat rentan dengan hilangnya kendali. Karena keluaran tenaganya itu membuat mobil menjadi enteng ketika dipacu," imbuh Jusri.
Dalam kondisi normal, lanjut Jusri, sedikit saja perilaku mengemudi mobil-mobil tersebut berubah, maka akan sangat berpengaruh pada pengendalian mobil itu sendiri. Belum lagi, jika pengendara dipengaruhi hal lainnya seperti keletihan atau sampai mabuk.
"Sedikit sentuhan pada pedal gas atau gerakan di kemudi itu dapat membuat pengendara tidak biasa. Makanya butuh pembiasaan sebelum membawa kendaraan, apalagi yang jarang atau baru pertama kali bawa," jelasnya.
"Kenali mobilnya, misalnya dimensi, fitur-fiturnya, kemudian figur tenaganya, dan karakter pengendalian mobil tersebut. Sudah pasti ada perbedaan cara membawa mobil seperti ini dibanding dengan mobil regular," papar Jusri.
Polisi saat mengevakuasi kecelakaan Mercy di Kota Medan, Rabu (8/5/2024). Foto: Dok. Istimewa
Tak melulu mobil spesifikasi tinggi, Jusri bilang bahkan sesama mobil kelas regular punya karakternya masing-masing dan butuh penyesuaian apabila pengemudi berganti atau berpindah mobil. Tiga hal utama yang perlu diadaptasi adalah kendali kemudi serta cara menginjak pedal gas dan rem.
ADVERTISEMENT
"Kita ambil contoh mobil balap dengan spesifikasi yang sama dalam satu musim. Meski begitu, pebalap tetap perlu menyesuaikan karakter menginjak pedal gas dan rem, kemudian cara berbelok setiap kali ingin balapan saat sesi warming up," terangnya.
Dirinya juga berpendapat soal karakteristik jalan di Indonesia yang tidak semuanya cocok untuk mobil dengan spesifikasi tinggi jika dikemudikan orang awam.
"Belum lagi kita bicara kondisi pengemudi saat itu entah dia lelah, capek, dipengaruhi obat-obatan, atau sebagainya. Ini juga ada kaitannya dengan mental, tidak cukup dengan keterampilan. Pengetahuan itu penting, penting mengetahui betul mobil yang sedang dibawanya, penting mengetahui jalan yang sedang dilaluinya, penting mengetahui aturan lalu lintas," pungkas Jusri.
***