Berita Populer: Lawan Arus Simpang Ragunan; Toyota bZ4X Touring ke Indonesia

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengendara berhenti melewati marka jalan di simpang Jalan Raya Ragunan. Foto: Dok. kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara berhenti melewati marka jalan di simpang Jalan Raya Ragunan. Foto: Dok. kumparan

Observasi singkat lawan arus lalu lintas di kawasan Simpang Ragunan, Jakarta Selatan merupakan salah satu berita populer pembaca kumparanOTO, Selasa (23/6).

Kemudian ada rumor mobil listrik Toyota bZ4X Touring yang akan hadir di Indonesia, serta mengungkap alasan pabrik komponen otomotif di Jawa Timur yang ingin hengkang ke Vietnam.

Selengkapnya rangkuman berita populer kumparanOTO.

5 Menit di Simpang Ragunan: Lawan Arus hingga Terobos Lampu Merah

Observasi singkat di Simpang Ragunan, Jakarta Selatan, mengungkap maraknya pelanggaran lalu lintas dalam waktu lima menit saja. Mulai dari melawan arus, tidak memakai helm, menerobos lampu merah, hingga penggunaan knalpot brong, semuanya terekam dengan jelas.

kumparan post embed

Toyota bZ4X Touring Terdaftar di Indonesia, NJKB Rp 800 Jutaan

Toyota bZ4X Touring, varian SUV listrik terbaru, telah terdaftar di Indonesia dengan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) mencapai Rp 800 jutaan. Varian ini menawarkan pilihan penggerak Front Wheel Drive (FWD) dengan tenaga 224 dk dan All Wheel Drive (AWD) yang lebih buas dengan gabungan 380 dk, keduanya menggunakan baterai Lithium-ion 74,7 kWh yang mampu menempuh jarak hingga 591 kilometer (FWD) atau 528 kilometer (AWD).

kumparan post embed

Alasan Pabrik Komponen Otomotif di Jatim Berencana Pindah ke Vietnam

Rencana relokasi dua pabrik komponen otomotif asal Jepang dari Jawa Timur ke Vietnam menjadi sorotan serius, menandai meningkatnya daya saing Vietnam sebagai basis manufaktur regional. Meski belum ada penjelasan resmi dari prinsipal di Jepang, faktor biaya operasional, regulasi pajak yang rumit, dan overhead cost yang relatif tinggi di Indonesia diduga menjadi pemicunya.

kumparan post embed