Berjumpa Suzuki Carry Truntung 1983, Usia 4 Dekade Masih Gagah

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suzuki Carry 2 tak thun 1984. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suzuki Carry 2 tak thun 1984. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Suzuki Carry ST20 keluaran 1983 milik Shandy asal Kebumen, tampil gagah di tengah maraknya mobil modern. Meski berusia lebih dari 40 tahun, mobil yang dijuluki Carry Truntung ini masih dipertahankan dalam kondisi prima dengan beberapa ubahan ringan yang mempertahankan karakter klasiknya.

Disebut Truntung lantaran suara deru knalpot 2-taknya terdengar seperti "truntung tung tung tung" saat lepas gas.

“Mobil ini Suzuki ST20 tahun 1983, masih satu keluarga sama Carry. Cuma bedanya tipe ini masih pakai mesin 2-tak,” ujar Shandy kepada kumparan saat ditemui di acara Jambore Suzuki Club di kawasan Jakarta Timur baru-baru ini.

Mobil legendaris ini kini sudah berpindah tangan hingga tiga kali, surat-suratnya pun tetap lengkap. Shandy menyebut beberapa kompone sudah diganti, mulai dari lampu depan, spion, hingga knalpot yang kini memakai silencer motor Kawasaki Ninja 2-tak agar suaranya lebih khas.

Suzuki Carry 2 tak thun 1984. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

“Knalpotnya saya ganti pakai Ninja, jadi suaranya mirip motor dua tak zaman dulu. Tampilannya juga lebih keren,” ujarnya.

Mesinnya sendiri masih orisinal dengan kapasitas 550 cc. Menariknya, mobil ini tidak dikemudikan dari Kebumen kebumen ke Jakarta melainkan menggunakan towing lantaran jarak jauh dianggap lebih efisien dibanding dikemudikan langsung.

Lebih lanjut soal ubahan, bagian bodi sudah mendapat peremajaan dengan dilabur ulang dan tetap mempertahankan warna asli, putih yang jadi ciri khasnya.

Suzuki Carry 2 tak thun 1984. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

“Interiornya sudah banyak berubah, jok depan sudah ganti kulit. Yang belakang dibikin rata semua biar lebih nyaman buat keluarga bisa tiduran,” jelasnya.

Shandy mengaku jatuh cinta pada Carry ST20 karena nuansa klasiknya yang sulit tergantikan. Apalagi, banyak ST20 lain yang sudah beralih ke mesin 4-tak, membuat versi orisinal seperti miliknya jadi semakin langka di komunitas.

Suzuki Carry 2 tak thun 1984. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

“Sekarang udah jarang yang masih 2-tak. Kebanyakan udah ganti mesin 4-tak, makanya saya pertahankan orinya,” ungkapnya.

Unit ini juga punya cerita menarik saat dibawa ke Jambore Suzuki tahun 2019. Shandy sempat menempuh perjalanan darat dari Kebumen hingga Taman Mini, meski di perjalanan sempat mengalami berbagai kendala teknis.

“Waktu itu sempat trouble karburator di tol, berangkat Kamis sampai Jakarta hari Sabtu. Tapi akhirnya sampai juga,” kenangnya.

Suzuki Carry 2 tak thun 1984. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Untuk bahan bakar, di perjalanan saat itu ia menghabiskan sekitar Rp 3 juta menggunakan Pertamax selama perjalanan tersebut. Sementara untuk perawatan, Shandy mengaku cukup kesulitan mencari suku cadang original karena sudah tidak diproduksi oleh Suzuki.

“Spare part-nya sudah jarang, kebanyakan copotan. Kalau ada pun harganya lumayan tinggi,” ujarnya.

Meski begitu, harga pasaran ST20 saat ini bisa mencapai Rp 30–50 juta tergantung kondisi. Bahkan, mobilnya sempat ditawar hingga Rp 84 juta saat Jambore 2019, namun Shandy menolak karena masih ingin mempertahankannya.

Suzuki Carry 2 tak thun 1984. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Sudah delapan tahun memegang mobil ini, Shandy mengaku restorasi dan modifikasi yang dilakukan tak bisa dihitung lagi. Estimasi total biaya yang dikeluarkan bahkan setara harga mobil baru.

“Kalau dihitung mungkin sudah habis Rp 50 sampai 60 jutaan. Tapi ya puas aja, karena ini mobil nostalgia,” tuntasnya.

Suasana di acara Jambore Suzuki Club 2025 di TMII. Foto: Fitra Andrianto/kumparan