Biaya Mahal dan Hanguskan Garansi, Konversi BBG Dinilai Sudah Tidak Layak
·waktu baca 2 menit

Beberapa tahun ke belakang, bahan bakar gas atau BBG diproyeksikan sebagai energi alternatif pengganti bensin.
“Konversi ke BBG itu mungkin ide yang layak 20-25 tahun lalu, sekarang sudah tidak layak,” buka Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada kumparan, Minggu (19/10/2025).
Menurutnya, ada sejumlah alasan yang mendasari hal tersebut. Pertama, garansi kendaraan pasti hangus jika dilakukan perubahan ekstrem seperti konversi energi BBG. Kemudian, biaya untuk melakukan konversi pun masih terbilang tinggi.
Seperti yang ditawarkan Komunitas Mobil Gas (Komogas), harga untuk mengubah mobil dengan menggunakan BBG dibanderol mulai dari Rp 14 juta hingga 25 juta untuk satu kendaraan.
“Kalau konversi mobil ke BBG, garansi kendaraan dari pabrikan bisa batal. Biaya konversi masih relatif mahal dengan BBM yang masih disubsidi, tidak masuk secara keekonomian,” imbuh Fabby.
Selain itu, energi listrik sebagai alternatif kendaraan ramah lingkungan dinilai memiliki harga yang lebih terjangkau dan lebih cepat diimplementasikan.
“Alternatifnya seperti mobil listrik, lebih murah dan terjangkau sekarang ini. Tujuan konversi (BBG) sekarang apa? Kalau untuk penurunan impor BBM, strategi lain seperti pindah ke kendaraan listrik lebih cepat diimplementasikan,” jelas Fabby.
Di lain sisi, Ketua Umum Komogas, Andy Lala mengharapkan pemerintah memberikan perhatian lebih pada kendaraan BBG. Sebelumnya, ia telah bekerjasama dengan Perusahaan Gas Nasional (PGN) untuk menyalurkan kit BBG ke sejumlah kendaraan yang tertarik.
“Kalau pemerintah lihat ini baik, support lah. Jadi, artinya kami jadi temannya pemerintah untuk bisa tepat dalam membantu. PGN meminjamkan 187 tabung ke Komogas, kami yang pasangin (ke masyarakat),” ucapnya.
Kata Andy, tujuan utama melakukan konversi BBM adalah untuk mengurangi biaya operasional harian. Hal ini karena biaya BBG saat ini dipasarkan seharga Rp 4.500 per LSP. Jauh lebih rendah dari BBM subsidi, Pertalite seharga Rp 10 ribu per liter.
