Bikin Motor Ganteng Enggak Harus Ikuti Tren

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keseruan diskusi kumparanOTO On The Road bersama Astra Honda Motor (AHM) di Jakarta, Sabtu (6/9/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Keseruan diskusi kumparanOTO On The Road bersama Astra Honda Motor (AHM) di Jakarta, Sabtu (6/9/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Kegiatan memodifikasi sepeda motor telah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda dan pencinta otomotif di Indonesia. Kendati demikian, tidak sedikit pemilik kendaraan yang merombak kendaraannya secara berlebihan hanya demi menuruti tren sosial.

Di sesi diskusi saat acara kumparan On The Road kolaborasi dengan Astra Honda Motor (AHM), Travel Content Creator Otomotif Rangga Pramudita alias Masrang membagikan prinsip utamanya dalam mendandani sepeda motor agar tetap estetis, nyaman, dan aman.

Masrang tidak setuju dengan perilaku modifikasi yang dipicu oleh rasa takut tertinggal tren atau Fear of Missing Out (FOMO). Menurutnya, perombakan sepeda motor seharusnya didasari pada kebutuhan teknis dan kenyamanan pengendara.

Keseruan diskusi kumparanOTO On The Road bersama Astra Honda Motor (AHM) di Jakarta, Sabtu (6/9/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

"Menurut Masrang, ganteng itu enggak harus FOMO. Ikuti saja apa yang menurut kita cakep, benerin apa yang kita ingin, bukan karena circle atau tren pengin," lugas Masrang di kantor kumparan, Minggu, (7/6/2026).

Ia menilai bahwa modifikasi kendaraan harus mempertimbangkan batas kemampuan berkendara pemiliknya. Mengubah komponen secara drastis tanpa perhitungan matang justru dapat membahayakan keselamatan saat bermanuver di jalan raya.

Masrang menceritakan pengalamannya sendiri saat memilih komponen kendaraan. Ia secara sadar menolak menggunakan jenis komponen tertentu yang tidak sesuai dengan karakter dan aturan berkendara.

Keseruan kumparanOTO On The Road bersama Astra Honda Motor (AHM) di Jakarta, Sabtu (6/9/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

"Sebagai contoh, Masrang sampai detik ini belum begitu berani pakai ban ultra-soft mengingat umur dan respons rem yang enggak jago, jadi pilih yang standar saja. Lakukan apa yang membuat kita aman dan nyaman," paparnya.

Selain aspek teknis kendaraan, menurut Masrang keselamatan lalu lintas juga dinilai sangat bergantung pada empati pengemudi di jalan raya. Setiap kota memiliki karakter serta kebiasaan berkendara yang berbeda-beda dan perlu dipahami oleh setiap pengguna jalan.

Keseruan kumparanOTO On The Road bersama Astra Honda Motor (AHM) di Jakarta, Sabtu (6/9/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Pemahaman akan etika lalu lintas dan teknik pengereman yang tepat menjadi modal utama bagi setiap pengendaran guna menekan angka kecelakaan.

"Pada dasarnya modifikasi itu enggak ada yang salah, cuma validasinya saja yang sering kali salah. Berawal dari diri sendiri untuk keselamatan bersama dengan tetap mengusung prinsip #Cari_Aman," tutupnya.