Bos AHM Klaim Motor Honda Layak Disebut Motor Nasional karena Alasan Ini

Menapaki usia investasi yang ke-55 tahun di Tanah Air, PT Astra Honda Motor (AHM) menekankan bahwa bisnis mereka bukan sekadar jualan, melainkan sebuah ekosistem yang menghidupi jutaan masyarakat.
Executive Vice President AHM, Thomas Wijaya, selama beroperasi di Indonesia, perusahaan telah melayani lebih dari 100 juta konsumen.
"Perekonomian membantu berkontribusi, ini dua hal, satu terhadap tadi konsumen ataupun masyarakat di luar tapi juga membantu stakeholder di dalam industri two wheeler ataupun khususnya industri sepeda motor," kata Thomas saat ditemui di acara AHM, Jumat, (10/6/2026).
Tak hanya itu, industri yang dibangun AHM juga berdampak luas terhadap jutaan keluarga di Indonesia. Thomas mengungkapkan, bahwa ekosistem bisnis mereka dari hulu hingga ke hilir kini telah melibatkan sekitar 2 hingga 3 juta keluarga.
"Jadi industri ini sangat bermanfaat dan berarti bagi hampir 3 juta keluarga yang memang terlibat dan terdampak langsung dari industri sepeda motor Honda," ujarnya.
Menurut Thomas, besarnya keterlibatan sumber daya lokal inilah yang membuat industri mereka layak disebut sebagai bagian dari industri nasional.
"Jadi kita itu produknya itu kalau dibilang bahwa kita itu sebenarnya sudah motor Indonesia lah sudah motor nasional, kenapa? karena tadi sudah melibatkan hampir 3 juta keluarga kemudian kita itu sudah berinvestasi 55 tahun," tegasnya.
Ia juga menyoroti kuatnya ekosistem industri yang terbentuk, mulai dari pemasok komponen hingga jaringan distribusi dan layanan purna jual.
Selain di sisi produksi, bisnis AHM juga didukung lebih dari 1.000 jaringan penyalur resmi, 3.000 gerai bengkel, serta sekitar 7.000 hingga 8.000 toko suku cadang.
Melalui pertumbuhan pasar yang berkelanjutan, ia berharap bahwa industri ini mampu membangun perekonomian nasional ke arah yang lebih baik. Kontribusi positif tersebut ditargetkan dapat menyasar seluruh lini, mulai dari masyarakat pengguna sepeda motor hingga jutaan tenaga kerja yang terlibat aktif dalam rantai pasok industri mereka.
"Maka dari itu kalau kita lihat dari sisi upstream dulu sudah semuanya ribuan dan ratusan supplier itu berdomisili di Indonesia. Tentu akhirnya komponen lokal ataupun kita punya purchase lokal itu sudah hampir 100 persen juga domestik," tuntasnya.
