BRIN Siapkan Standar Colokan Fast Charging Motor Listrik, Bisa Lintas Merek

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Motor listrik Polytron Fox 350 saat diisi daya di ULP Sribhawono. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Motor listrik Polytron Fox 350 saat diisi daya di ULP Sribhawono. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan standar colokan fast charging motor listrik yang diharapkan dapat digunakan berbagai merek kendaraan di Indonesia.

Konsep tersebut bisa dibilang menjadi solusi agar pengguna tidak lagi bergantung pada sistem pengisian daya yang berbeda-beda di setiap pabrikan.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN Eka Rakhman Priandana mengatakan standar yang dikembangkan mengacu pada IEC 62196-6 atau yang dikenal sebagai Type 6 untuk kendaraan roda dua.

"Konsepnya kami mengacu pada standar IEC 62196-6 atau CHAdeMo untuk e-PTW (Electric Powered Two-Wheelers atau lebih dikenal juga dengan nama Type 6 yang sudah dikenal banyak di India," buka Eka saat ditemui kumparan di kantor BRIN, Tangerang, belum lama ini.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eka Rahman Priandana. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Meski mengacu pada standar internasional, desain yang disiapkan BRIN telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Termasuk dua musim yang jadi pertimbangan penting untuk durabilitas komponen.

"Karena kondisi lingkungan Indonesia di mana lebih tropis yang terdiri dari 2 pin kabel power dengan kemampuan 120V 100A dan 6 pin untuk persinyalan," katanya.

Saat ini rancangan tersebut telah diajukan ke Badan Standarisasi Nasional (BSN) dalam bentuk Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI). BRIN katanya tinggal menungu proses pengujian sampel plug dan soket sebelum pembahasan lanjutan.

Colokan baterai sepeda motor listrik United e-Motor T1800. Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan

Dengan model colokan yang dikembangkan sendiri, maka pabrikan tidak perlu melakukan perubahan besar pada motor listrik yang telah beredar maupun produk yang akan dijual nantinya.

"Karena yang diubah cuma di soket dan colokannya, jadi tidak sampai mengubah keseluruhan di bagian dalam motor listrik mereka. Intinya tinggal diganti colokan yang lama kemudian dibuat bobokan untuk soket tadi yang dihubungkan ke baterai dengan kabel motor tersebut dan BMS disambungkan ke bagian controller-nya," lengkapnya.

Motor listrik Maka Cavalry. Foto: Sena Pratama/kumparan

Lanjutnya, BRIN berencana menggandeng empat produsen motor listrik yakni Maka, Polytron, Alva, dan Savart untuk menguji implementasi standar tersebut, sebelum nantinya dipertimbangkan menjadi standar yang lebih luas di industri.

Jika proses berjalan sesuai rencana, Eka berharap realisasi awal standar fast charging motor listrik tersebut dalam mulai pada tahun depan.

"Sambil kita lihat respons dari empat pabrikan itu, tahun 2027 pertengahan, kalau sudah oke baru kita akan buat banyak fast charging roda dua di mana-mana," tuntasnya.