Bukan Tesla, Ini Mobil Listrik yang Jadi Primadona di Jepang

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mobil listrik mungil Nissan Sakura. Foto: Nissan
zoom-in-whitePerbesar
Mobil listrik mungil Nissan Sakura. Foto: Nissan

Sebagai negara dengan industri otomotif paling maju di dunia, Jepang seperti tak tersentuh mobil listrik hingga kini. Setidaknya, melalui pengamatan kumparan di jantung perkotaan Negeri Sakura selama sepekan.

Tidak banyak orang Jepang yang melakukan mobilitasnya di atas mobil setrum, jalanan lebih diramaikan oleh mobil hybrid atau bermesin bakar konvensional (ICE). Soal produk, pilihannya pun juga belum banyak.

Dari pemain lokal baru ada Mitsubishi eK X EV & Minicab MiEV, Nissan Sakura, Ariya, LeAF, Toyota bZ4X, Subaru Solterra, dan Honda e. Sementara dari luar ada Tesla, Hyundai, hingga pendatang baru asal China, BYD.

Model mobil listrik paling populer di Jepang saat ini dipegang oleh Nissan Sakura-yang dikembangkan bersama Mitsubishi lewat eK X EV-dengan total penjualan mencapai 35.099 unit sepanjang tahun ini, mengutip Japan Times.

Mobil listrik mungil Mitsubishi eK X EV. Foto: Mitsubishi Motors

Ada beberapa hal yang membuatnya laris, pertama model elektrik yang baru muncul tahun lalu itu saat ini jadi yang paling terjangkau di antara pesaingnya. Nissan Sakura dibanderol dua juta Yen atau berkisar Rp 200 jutaan, harga yang sudah disubsidi oleh pemerintah Jepang.

Dimensinya juga sangat kompak, mirip dengan kei car-mobil ringan-yang jamak ditemui di sana. Sehingga cocok untuk masyarakat Jepang pada umumnya yang tinggal di perkotaan dengan ruang terbatas.

Kendati demikian, adanya ragam pilihan mobil listrik hingga terjangkau sekalipun, belum mampu meningkatkan pasar mobil listrik di Jepang. Sepanjang tahun 2022, mobil listrik hanya menyumbang 1,5 persen dari total penjualan mobil baru di Negeri Matahari Terbit.

Menurut pemandu tur selama kumparan di Jepang, Al Giffari mengatakan, popularitas mobil listrik di negara itu sempat terlihat meningkat beberapa tahun belakang. Namun, kini seakan tiada kabarnya.

Tampilan luar Mitsubishi Minicab MiEV Foto: Ghulam Muhammad Nayazri / kumparan

“Di sini (kota besar) tuh mobil listrik jarang. Pas pertama booming itu ada sebagian, habis itu enggak ada lagi. Yang jual mobil listrik juga jarang, dulu banyak,” kata Al yang sudah menjadi pemandu tur di Jepang selama bertahun-tahun itu.

Selain infrastruktur, Al menilai mobil listrik yang ada sekarang belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Jepang pada umumnya. Seperti ketersediaan infrastruktur pendukung, jarak tempuh, hingga harga yang masih relatif mahal.

“Di sini mobil itu untuk kebutuhan. Jadi beli kalau butuh saja, dipakainya saja Sabtu atau Minggu. Sisanya pakai kereta atau bus, kecuali yang di pedesaan, ya. Itu pasti pakai mobil,” imbuhnya.

Namun, sepertinya peta persaingan mobil listrik di Jepang dan dunia akan semakin ramai pada waktu mendatang. Sebab, jenama seperti Toyota, Mitsubishi, Nissan, Honda, Suzuki, Daihatsu, hingga Lexus sudah mengungkapkan lusinan calon mobil listrik masa depannya masing-masing lewat gelaran otomotif Japan Mobility Show 2023.

***