Bus Sering Kentut Sembarangan, Apa Artinya?

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bus Trans Jaya. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Bus Trans Jaya. Foto: Dok. Istimewa

Kendaraan besar seperti bus kerap buang angin sembarangan. Suaranya bervariasi, ada yang 'tuuut', 'ceees' atau mendesis, makanya sering disebut bus kentut. Tapi bedanya cuma suara angin tanpa bau.

Ujar Technical Training & Support Center Dept. Head PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI) Suyadi, suara tadi termasuk variasi yang sengaja ditambahkan pada sistem pengereman bus. Karena aslinya hanya suara hembusan angin yang mendesis.

"Udara yang dibuang dari pengereman itu dimodifikasi pada bagian release valve-nya. Bisa dikasih botol air atau yang lainnya yang bisa menimbulkan bunyi cuuus, atau lainnya," terang Suyadi kepada kumparan belum lama ini.

kumparan post embed

Lalu kenapa ada udara yang dibuang?

Jadi baik bus berukuran besar atau truk heavy duty umumnya sudah menerapkan full air brake, atau rem angin penuh, tanpa ada fluida pada sistem pengeremannya. Angin, berfungsi sebagai medium untuk menekan piston untuk menekan kampas rem.

"Sederhananya saat ngerem (injak pedal) itu udara akan mendorong kampas rem, setelah pedal rem dilepas ada udara yang terbuang lewat release valve makanya bisa bunyi menyerupai kentut," imbuh Suyadi.

kumparan post embed

Secara runut, begini mekanismenya. Angin tadi disuplai oleh komponen kompresor yang menyedot udara dari luar, kemudian disimpan dalam tangki udara sehingga tekanannya meningkat (dikompresi). Nah udara yang dikompresi inilah yang dibutuhkan untuk pengereman.

Selain itu kerja kompresor dibantu oleh pressure regulator. Jadi saat tekanannya penuh sampai 840 kpa, suplai udara dihentikan dan beberapa volume udara dibuang. Sehingga saat jalan kerap terdengar bunyi desisan angin.

kumparan post embed

Selanjutnya apabila kurang dari 740 kpa, kompresor kembali hidup mengisi udara ke tangki. Begitu seterusnya, sehingga tekanan di angin di dalam tangki stabil.

Alur distribusi angin dari tangki kemudian masuk ke dalam selang khusus, lalu menuju katup yang terhubung dengan pedal rem. Jadi buka tutup katup ini tergantung injakan pedal rem, makin dalam diinjak maka makin besar pula suplai udara untuk pengereman.

Bus PO Sedya Mulya. Foto: dok. Sedya Mulya

Lanjut dari katup kemudian masuk ke dalam brake chamber, yang mengubah tekanan angin tadi menjadi gerakan mekanis, untuk menggerakkan push rod menekan kampas rem mengapit tromol.

Jadi berkaitan hal tadi. Saat injakannya penuh, maka akan semakin kuat pula gerakan push rod untuk menghentikan laju roda.

Nah baru ketika pedal rem dirilis, suplai udara dari tangki akan dihentikan. Kemudian udara yang masih terperangkap di dalam brake chamber dibuang melalui release valve.

Bus PO Haryanto. Foto: dok. Instagram Haryanto Mania

Namun sistem pengereman udara ini bukannya tanpa perawatan. Tangki yang berisi udara berpotensi terjadi kondensasi atau pengembunan. Air dalam tangki inilah yang bakal mengurangi kapasitas udara.

Oleh sebab itu, tak jarang kita melihat awak bus ketika sampai di tujuan, berkutat pada bagian buritan bus, untuk menguras air di dalam air tank.

video youtube embed