Cerita Puji 25 Tahun Setia Pakai Suzuki Karimun Kotak
·waktu baca 4 menit

Mobil lawas bagi sebagian orang mungkin hanya kenangan. Tapi bagi Puji, anggota Suzuki Karimun Club Indonesia, mobil mungil miliknya justru jadi bagian penting dari hidupnya.
Ia masih setia merawat Suzuki Karimun kotak lansiran 2000 yang dibelinya baru dari diler 25 tahun lalu.
“Ini Karimun-nya saya beli tahun 2000. Dan saya beli dari baru, pemilik pertama,” ujar Puji, saat ditemui di sela-sela acara Jambore Suzuki Club di Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (18/10/2025).
Puji merupakan termasuk salah satu pemilik generasi awal Karimun Kotak yang belum memiliki varian tipe seperti DX atau GX. Model itu baru muncul setahun setelah mobilnya dirilis.
“Kalau tahun 2000 itu belum ada tipenya. Setelah 2001 baru ada DX, GX. Kalau 2000 itu enggak ada,” jelasnya.
Puji membeli Karimun karena butuh mobil kecil untuk keluarga mudanya saat itu. “Anak saya baru lahir waktu itu. Saya cari mobil kecil, pilihannya Kia Visto, Hyundai Atos, sama ini Karimun Kotak,” kata Puji.
Ia menganggap Karimun lebih praktis dibanding dua mobil pesaingnya. Menurutnya, ruang kabin yang fleksibel jadi alasan utama.
“Saya cuma mikir, kalau saya jalan sama istri dan anak, barang pasti banyak. Nah, di Visto dan Atos kalau bangku belakang dilipat harus dua-duanya. Sementara di Karimun bisa satu aja. Simpel, jadi anak masih bisa pakai car seat,” ujarnya.
Meski sudah berumur, Karimun milik Puji tetap jadi mobil kesayangan. Ia bahkan masih aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas.
“Hobi aja sih. Dan saya aktif di Karimun Club Indonesia. Saya dulu mantan ketua umum juga,” katanya.
Menurut Puji, mesin F10A milik Karimun terkenal tangguh meski sudah berumur jadi alasan tetap setia dengan mobil mungil ini. Ia menyebut durabilitasnya jadi nilai utama dari tunggangannya itu.
“Irit juga enggak terlalu karena masih karbu. Tapi mesin ini kuat banget. Dipakai juga di Katana, Jimny, Forsa, Carry 1000 yang jadi angkot Bogor. Spare part-nya juga banyak banget jadinya,” ujarnya.
Namun, Puji mengakui bagian bodi mobil justru yang jadi tantangan dalam merawat Suzuki Karimun. Harga komponen bodi sudah sangat tinggi dan sulit didapat.
“Engine part saya enggak akan pernah pusing, yang saya pusing body part. Mahal banget. List body aja Rp 400 ribu satu. Waktu saya restorasi tahun 2017, kaca dan list-nya habis Rp 4 juta,” tutur Puji.
Modifikasi Karimun Kotak Konsep Retro Klasik
Dari sisi tampilan, Puji sudah memodifikasi mobil andalannya dengan mengusung konsep retro klasik agar mobil terlihat lebih unik. Hampir seluruh bagian eksterior dan interiornya sudah dimodifikasi.
“Lampu berubah, bumper berubah, grille berubah. Terus ini juga sudah saya wide body karena pakai ban 15 dengan pelek kaleng offset keluar. Kalau enggak dilebarin, pas belok pasti nyangkut,” ucapnya.
Interior mobil juga sudah diganti total untuk memberi kenyamanan lebih. Semua bagian dibuat ulang dengan bahan baru.
“Semua saya ganti kulit, dari jok, door trim, sampai karpet dasar. Setir juga saya ganti pakai NRP,” kata Puji.
Untuk sektor mesin, turut mendapat penyegaran guna mendongkrak performanya tanpa menghilangkan karakter aslinya. Beberapa komponen sudah dimodifikasi khusus.
“Mesin sudah porting polish, pakai header 41 pendek, piston high comp, air filter KNN, coil baru, dan ignition module,” bebernya.
Hasil modifikasi membuat konsumsi bahan bakarnya masih cukup efisien. Dalam pemakaian luar kota, konsumsi bensin bisa lebih irit.
“Kalau untuk dalam kota 1:11 lah. Luar kota bisa 1:15,” ujarnya.
Puji juga kerap membawa mobilnya menempuh jarak jauh. Bahkan Karimun itu sudah pernah sampai Lombok.
“Saya pernah bawa ke Lombok. Saya kan kebetulan ngurusin MotoGP juga, jadi pernah bawa ke Mandalika. Enggak ada masalah di perjalanan,” katanya bangga.
Total biaya modifikasi yang ia keluarkan selama bertahun-tahun pun tidak sedikit. Proses ubahan dilakukan bertahap sejak 2007.
“Saya modifikasi dari tahun 2007. Ganti ini, ganti itu, enggak langsung jadi. Kalau ditotal bisa Rp 50-60 juta,” ujarnya.
Kini, Karimun itu tidak lagi digunakan sebagai mobil harian. Puji hanya mengeluarkannya saat ada acara komunitas atau pameran.
“Enggak buat harian, paling buat kumpul atau event saja. Sudah begini aja, enggak mau ubah lagi,” tutup Puji.
