Chery Ambil Alih Pabrik Nissan di Afsel, Jadi Basis Produksi dan Ekspor

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pabrik Nissan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pabrik Nissan. Foto: Shutterstock

Chery mengambil alih pabrik milik Nissan di Rosslyn, Afrika Selatan. Langkah ini menjadi strategi ekspansi global mereka, terutama di tengah persaingan ketat dan perlambatan pasar domestik.

Disitat dari Business Insider Africa, proses serah terima pabrik tersebut rampung pada pekan lalu, setelah kesepakatan diumumkan sejak Januari 2026. Chery menyebut fasilitas ini akan dijadikan pusat operasional utama di Afrika untuk produksi, ekspor, hingga riset dan pengembangan (R&D).

Dengan akuisisi ini, Afrika Selatan diposisikan sebagai tulang punggung ekspansi Chery di kawasan. Pabrik Rosslyn nantinya juga akan berfungsi sebagai basis regional untuk rantai pasok dan pengembangan sumber daya manusia.

Ilustrasi Chery. Foto: DiPres/Shutterstock

“Tujuan jangka panjang kami adalah menjadikan pabrik Rosslyn sebagai pusat otomotif terpadu dengan riset dan pengembangan, operasi rantai pasok, serta pelatihan, guna mendukung ekspansi Chery dan target penjualan lebih dari 100.000 unit per tahun di Afrika Selatan,” kata Vice President Chery Afrika Selatan, Charlie Zhang.

Langkah Chery datang di momen krusial bagi industri otomotif Afrika yang tengah berkembang. Afrika Selatan sendiri masih menjadi pusat manufaktur terbesar di benua tersebut, sekaligus basis produksi berbagai merek global.

Sejumlah pabrikan besar seperti BMW, Mercedes-Benz, Ford, Toyota, Isuzu, hingga Volkswagen telah lama menjadikan negara tersebut sebagai hub produksi. Dominasi ini membuat Afrika Selatan memiliki ekosistem industri otomotif yang matang.

Dengan mengambil alih fasilitas yang sudah ada, Chery mendapatkan keuntungan instan berupa jaringan pemasok yang mapan. Selain itu, perusahaan juga bisa memanfaatkan tenaga kerja serta infrastruktur ekspor yang sudah terbentuk.

Chery memastikan seluruh 692 karyawan di pabrik Rosslyn akan tetap dipertahankan. Bahkan, proyek ini diproyeksikan menciptakan hampir 3.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung di berbagai sektor terkait.

Pekerja India bekerja di jalur perakitan komponen kendaraan Datsun Go dan Renault Kwid di pabrik Renault Nissan Automotive India di Chennai pada tanggal 26 Oktober 2016. Foto: Arun SANKAR / AFP

Sebelum produksi dimulai, Chery akan menggelontorkan investasi untuk meningkatkan fasilitas pabrik. Pembaruan mencakup mesin, utilitas, hingga lini produksi, meski nilai investasinya belum diungkap.

Produksi kendaraan dijadwalkan mulai pertengahan 2027 dengan target awal 15.000 unit pada paruh kedua tahun tersebut. Model yang akan diproduksi meliputi Jetour T series, Jaecoo J5, dan Chery Tiggo 4.

Khusus Jaecoo J5, model ini akan hadir dalam varian mesin konvensional (ICE) dan kendaraan energi baru (NEV). Strategi ini mencerminkan fokus Chery dalam memperluas portofolio elektrifikasi secara global.

Dalam jangka panjang, Chery juga akan meningkatkan kandungan lokal produksi. Tahap awal ditargetkan mencapai 40 persen, sembari menjajaki kerja sama dengan pemasok Tier 1 di Afrika Selatan.

Aktivitas produksi pabrik Nissan di Indonesia. Foto: Nikkei

Di sisi lain, perusahaan tetap akan membawa pemasok khusus dari China, terutama untuk teknologi kendaraan listrik dan sistem berkendara cerdas. Hal ini dilakukan untuk menjaga standar teknologi sekaligus mempercepat adaptasi pasar.

Investasi ini jadi tren global industri otomotif. Pabrikan China seperti BYD, GAC, Great Wall Motor, dan SAIC mulai agresif berekspansi ke pasar berkembang di Afrika, Amerika Latin, hingga Asia Tenggara.