China Bisa Luncurkan 3 Model EV Baru Sehari, CATL Ingatkan Malfungsi Baterai

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fasilitas CATL di Jerman. Foto: Dok. CATL
zoom-in-whitePerbesar
Fasilitas CATL di Jerman. Foto: Dok. CATL

Industri otomotif saat ini tak menampik kemampuan produksi mobil listrik di China yang terus menunjukkan kurva agresif. Bahkan dari kapasitas dan kemampuan produksinya, Negeri Tirai Bambu disebut mampu lahirkan 3 model baru setiap hari.

Namun di balik masifnya penetrasi model-model battery electric vehicle (BEV) baru di sana, ada ancaman serius mengenai kualitas dan keselamatan komponen utama seperti baterai kini mulai membayangi, mengutip Car News China.

Peringatan tegas tersebut disampaikan langsung oleh Chairman Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL), Robin Zeng. Pimpinan produsen baterai EV terbesar di dunia itu mengungkapkan kekhawatiran persaingan brutal di pasar domestik Tiongkok.

Persaingan harga yang brutal serta siklus pengembangan kendaraan yang makin sempit, telah memicu munculnya kasus kerusakan baterai secara masal di China. Ini disampaikan Zeng saat World Power Battery Conference 2026.

Baterai Cell-to-Pack (CTP) 'Qillin 3.0' dari CATL. Foto: Dok. CATL

Saat menyampaikan pidato utamanya di Yibin, Provinsi Sichuan, Zeng membeberkan fakta mengejutkan. Sepanjang 2026 saja, produsen otomotif di China telah meluncurkan lebih dari 600 model kendaraan listrik baru.

Demi mengejar kecepatan peluncuran yang sangat singkat tersebut, pabrikan terpaksa memangkas durasi pengujian dan validasi teknis. Menurut Zeng, pemotongan proses pengujian inilah yang menjadi akar masalah mendasar, sehingga sejumlah produk baterai yang sudah dipasang pada kendaraan konsumen mengalami cacat produksi atau kegagalan fungsi pada batch tertentu.

Kondisi ini makin diperparah oleh perang harga yang kian tidak terkontrol. Sepanjang semester pertama tahun ini, harga sel baterai jenis Lithium Iron Phosphate (LFP) merosot drastis hingga di bawah 0,35 yuan per Wh (sekitar Rp 760 per Wh).

Tekanan biaya yang terlampau murah meninggalkan sedikit sekali ruang bagi pabrikan untuk mendanai pengujian kualitas jangka panjang secara intensif. Masalah kualitas ini sebetulnya bukan sekadar kekhawatiran di atas kertas, melainkan sudah mulai memakan korban.

CATL pamerkan teknologi baterai terbarunya. Foto: Carscoops

Kasus nyata sempat mencuat pada isu baterai LFP pasokan CALB yang terpasang di ratusan ribu unit GAC Aion S. Baterai tersebut mengalami kebocoran elektrolit, pembengkakan yang dikenal publik sebagai kasus 'baterai pisang', hingga memicu kehilangan tenaga secara mendadak saat mobil sedang dikendarai.

Menanggapi fenomena riskan ini, CATL mengeklaim pihaknya menerapkan standar kontrol kualitas pabrikan yang jauh lebih ketat dari rerata industri.

Jika standar umum menetapkan toleransi cacat satu dibanding satu juta sel (1 PPM), pabrikan mematok target teknis internal maksimal satu sel cacat dari satu miliar sel (1 PPB) untuk menekan risiko kerusakan.

Tak hanya itu, CATL juga membentuk tim penguji internal khusus bernama Opponent Group yang bertugas menguji sistem baterai pada skenario paling ekstrem. Unit penguji independen ini diberi wewenang hak veto tunggal untuk menghentikan tahap pengembangan maupun membatalkan pengiriman baterai jika ditemukan potensi cacat tersembunyi.

Peringatan dari sosok nomor satu di CATL ini menjadi sinyal krusial bagi industri otomotif global, mengingat pemasok asal China menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar baterai dunia. Tanpa adanya regulasi durasi validasi yang ketat dari pemerintah, ambisi mengejar kecepatan peluncuran mobil listrik berisiko tinggi mengorbankan faktor keselamatan konsumen di jalan raya.