China Mulai Lirik REEV, Cocokkah Teknologi Ini untuk Indonesia?

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Range Extended Electric Vehicle (REEV). Foto: Black_Kira/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Range Extended Electric Vehicle (REEV). Foto: Black_Kira/Shutterstock

Di saat banyak negara berlomba mendorong adopsi mobil listrik murni, pasar China justru menunjukkan tren berbeda melalui teknologi Range Extended Electric Vehicle (REEV). Dewasa ini tumbuh pesat karena dinilai mampu menggabungkan sensasi berkendara mobil listrik, dengan fleksibilitas kendaraan berbahan bakar bensin.

Berbeda dengan hybrid konvensional, REEV merupakan kendaraan yang sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik. Mesin bensin yang dibawa tidak terhubung langsung ke roda, melainkan berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya baterai saat kapasitas listrik mulai menurun.

Konsep tersebut membuat pengguna tetap dapat menikmati karakter mobil listrik tanpa terlalu khawatir terhadap keterbatasan jarak tempuh.

Changan Deepal S07 REEV Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Popularitas REEV pun meningkat di China dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah pabrikan memanfaatkan teknologi ini sebagai solusi bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan elektrifikasi, namun masih memiliki kekhawatiran terhadap ketersediaan infrastruktur pengisian daya.

Pakar Desain Produk dan Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai tren tersebut muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran yang masih banyak ditemui di kalangan pengguna kendaraan listrik.

Ilustrasi mobilPlug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Foto: Dok. Motor1

“Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa yang sedang tumbuh pesat di China bukan hanya mobil listrik murni ya Mas, tetapi juga REEV. Teknologi ini berkembang karena mampu mengatasi kekhawatiran pengguna terhadap keterbatasan jarak tempuh dan ketersediaan pengisian daya,” kata Yannes saat dihubungi kumparan, Senin (8/6/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut cukup relevan jika dikaitkan dengan pasar Indonesia yang hingga kini masih menghadapi tantangan serupa. Infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang belum merata, membuat sebagian konsumen masih ragu untuk sepenuhnya beralih ke mobil listrik.

“Terutama karena jaringan SPKLU masih terkonsentrasi di kota besar dan koridor tertentu. Nah, REEV memungkinkan pengguna menikmati mobil listrik untuk aktivitas harian sekaligus tetap memiliki fleksibilitas mengisi bensin saat melakukan perjalanan jauh,” katanya.

Meski menawarkan sejumlah keunggulan, Yannes menilai peluang REEV di Indonesia tetap bergantung pada kesiapan ekosistem dan penerimaan pasar. Sejumlah tantangan masih perlu diselesaikan sebelum teknologi ini dapat berkembang secara luas.

Ilustrasi Range Extended Electric Vehicle (REEV). Foto: Zeynep Demir Aslim/Shutterstock

“Tetapi peluangnya masih menghadapi beberapa tantangan pertama regulasi dan skema pajak untuk REEV belum sepenuhnya jelas. Kedua masyarakat masih belum memahami perbedaan REEV dengan hybrid biasa. Ketiga harga jualnya sendiri jelas akan berada di atas HEV dan jauh di atas segmen LCGC,” jelasnya.

Dengan karakteristik tersebut, Yannes menilai REEV kemungkinan tidak akan langsung menyasar pasar massal pada tahap awal. Segmen konsumen yang dibidik cenderung berasal dari kalangan menengah atas, yang menginginkan pengalaman berkendara listrik tanpa harus sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya.

“Karena itu, REEV kemungkinan besar akan menarik konsumen middle upper class yang masih ragu memilih antara HEV dan BEV, bukan dari kelompok pembeli mobil murah entry level,” pungkasnya.

Apabila mampu menemukan formulasi regulasi dan insentif yang tepat, REEV berpotensi menjadi jembatan transisi menuju elektrifikasi penuh di Indonesia. Teknologi ini dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang tertarik dengan kendaraan listrik, tetapi belum sepenuhnya yakin untuk beralih ke mobil listrik murni.