Contoh Thailand, Pemerintah Diminta Kurangi Pajak Kendaraan Listrik
ยทwaktu baca 2 menit

Laporan perusahaan konsultasi Arthur D Little (ADL) membeberkan sejumlah hambatan yang dihadapi Indonesia dalam mendorong percepatan penjualan kendaraan listrik. Di samping soal minimnya ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), pemerintah juga perlu memberikan tambahan insentif.
Senior Manager ADL South East Asia Akshay Prasad mengatakan, insentif dari pemerintah harusnya juga bisa diberikan kepada investor atau start-up yang ingin membangun dan mengembangkan infrastruktur charging.
Lantaran tak ada stimulus dari pemerintah, akhirnya membatasi investor infrastruktur pengisian daya baterai yang masuk ke Indonesia.
"Berdasarkan negara lain biasanya start up atau sektor privat mengembangkan infrastruktur EV, sehingga adopsinya lebih cepat dan menantang kompetisi di pasar akan lebih baik," katanya di Jakarta, Selasa (1/8).
Menurutnya pemerintah Indonesia terlalu bergantung pada PLN, sehingga ini menjadi kendala yang harus dibenahi untuk mencapai target 3 juta unit kendaraan listrik pada 2030 --600 ribu unit roda empat dan 2,4 juta unit roda dua.
"Sulit untuk melepas monopoli mereka. Yang bisa dilakukan adalah kerja sama dengan partner PLN seperti Grab, Gojek, Bluebird atau pengguna EV lain untuk saling memberikan data terkait kebutuhan listrik, bagaimana pemanfaatan EV di Indonesia, sehingga bisa dibangun bisnis lebih baik dan menarik," katanya.
Mendukung pembebasan pajak impor mobil listrik
Terbaru, pemerintah Indonesia akan membebaskan pajak mobil listrik yang diimpor utuh (CBU). Dengan tujuan mendorong perusahaan otomotif lainnya masuk ke dalam negeri.
Hanya saja hal tersebut masih belum diputuskan. Meski demikian Partner & Global Head ADL Automotive Practice Andreas Schlosser mendukung adanya rencana insentif tersebut.
"Sangat penting mengundang pemain baru, biasanya dilakukan dengan mengurangi pajak impor CBU. Kalau banyak investor, baru mulai kembangkan kebijakan komponen dalam negerinya," terangnya.
"Hal itu dilakukan di Thailand beberapa tahun lalu, mengurangi pajak EV, banyak OEM EV masuk dan lebih berkembang saat ini. Semakin banyak EV di jalan, semakin banyak EV dipakai, persepsi masyarakat akan EV akan terbentuk," lanjutnya.
Melalui pendekatan pragmatis, perusahaan juga mengkategorikan Indonesia sebagai salah satu dari 15 negara, yang dianggap telah siap mengadopsi mobilitas elektrifikasi oleh ADL.
Indonesia masuk ke dalam kelompok pasar EV yang sedang berkembang (Emerging Market) bersama Jepang, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.
Di bawah kelompok tersebut, ada kelompok Starter' meliputi India, Vietnam, Meksiko, Brasil, dan Afrika Selatan.
Di atasnya merupakan kelompok negara 'Ambitious Follower' seperti China, Jerman, Singapura, dan United Kingdom yang semuanya hendak mengikuti satu-satunya negara adopsi kendaraan listrik paling sukses dan dijadikan benchmark dunia, yakni Norwegia.
