DHL Express: Kurir Lebih Nyaman Pakai Mobil Listrik, Tak Mudah Capek

Mobil listrik (EV) di armada DHL Express Indonesia disebut membuat kurir lebih nyaman dibanding mobil bensin konvensional (ICE). Perusahaan logistik itu terus menambah jumlah EV untuk pengiriman barang, terbaru mereka memboyong 30 unit Wuling Mitra EV Blind Van varian Long Range.
Hal tersebut diungkapkan oleh Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia, Ahmad Mohamad. Dengan tambahan itu, perusahaan telah mengoperasikan 58 unit mobil setrum dari total 261 kendaraan logistik di seluruh penjuru Tanah Air.
“Kalau mewawancarai kurir kami, mereka senang memakai mobil listrik. Mereka merasa capek berkurang, kabin tidak panas karena tidak ada mesin, dan berkendara terasa enak. Bagi pengemudi profesional, kenyamanan itu yang paling penting,” tuturnya di Halim, Jakarta Timur, Selasa (20/10).
Ahmad bilang, di masa depan perusahaan akan terus menambah van setrum untuk kendaraan logistik. Hal ini sejalan dengan target DHL Express Indonesia yang ingin mengubah seluruh kendaraan logistik menjadi 66 persen EV pada 2030.
Dijelaskannya, Mitra EV varian Long Range dipilih lantaran sesuai dengan rata-rata jarak tempuh pengiriman di angka 200-300 kilometer. Untuk distribusi di luar jarak tersebut, Ahmad menyebut pihaknya masih menggunakan kendaraan bensin.
"Charging station di Indonesia masih belum mencukupi. Jadi, kalau kami pilih EV harus perhatikan jarak tempuh. Misalnya ada rute yang 450 kilometer itu sedikit agak sulit, kami belum sesuaikan lagi, kebanyakan rute kami 200-300 kilometer," tambahnya.
Di sisi lain, Ahmad mengatakan pihaknya sudah memiliki fasilitas pengisian daya tersendiri. Ada 25 pusat layanan DHL Express yang dilengkapi dengan charging station di berbagai wilayah, termasuk Bali yang kini tengah mengalami krisis BBM.
Ia menyebut, armada logistik van setrum hanyalah sebagian kecil investasi yang dilakukan perusahaan. DHL Express Indonesia lebih banyak melakukan investasi di bidang infrastruktur, salah satunya fasilitas charging station.
"Kami banyak investasi di gedung-gedung kami, di Soekarno Hatta itu besar 14 ribu m². Dari segi kendaraan, investasinya sudah kami sesuaikan dengan biaya operasional," pungkas Ahmad.
