Otomotif
·
15 Oktober 2020 14:34

Diduga Ada Pemalsuan Data, Otoritas Jepang Minta Pabrikan Mobil Lakukan Recall

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Diduga Ada Pemalsuan Data, Otoritas Jepang Minta Pabrikan Mobil Lakukan Recall   (17232)
Ilustrasi Penggunaan Sabuk Pengaman Foto: Shutterstock
Joyson Safety Systems (JSS) Japan, produsen komponen keselamatan mobil, diduga memalsukan data sabuk pengaman (seat belt), setelah gagal mencapai standar yang ditetapkan di Jepang, mengutip dari Nikkei, Rabu (14/10).
ADVERTISEMENT
Sabuk pengaman yang sesuai tak standar tersebut diproduksi di pabrik Hikone, sebelah barat Nagoya, bekas perusahaan airbag yang sudah bangkrut, Takata.
Bahkan produk seat belt tersebut, sudah dikirim ke produsen-produsen mobil di negara tersebut. Dan masih belum jelas apakah juga dikirim ke luar negeri.
JSS merupakan perusahaan berbasis di Amerika Serikat, yang mana pemiliknya adalah konglomerat China Safety Key System, yang kemudian berganti nama menjadi JSS, setelah mengakuisisi Takata pada 2018 lalu.
Tuduhan tersebut adalah skandal terbaru yang muncul dari Takata, yang menyatakan pailit pada 2017. Tidak seperti inflator kantung udara yang rusak dan mematikan, pengoperasian sabuk pengaman perusahaan tidak dianggap bermasalah.
Diduga Ada Pemalsuan Data, Otoritas Jepang Minta Pabrikan Mobil Lakukan Recall   (17233)
Ilustrasi sabuk pengaman. Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan
Nikkei mengungkapkan, bisa saja terdapat jutaan data sabuk pengaman yang dipalsukan. Kementerian Transportasi Jepang menginstruksikan pembuat mobil, untuk mempersiapkan recall.
ADVERTISEMENT

Pemalsuan data standar sabuk pengaman sebelum akuisisi

Melansir dari Reuters, JSS Global Communication Ditrector Bryan Johnson mengungkapkan, sedang meninjau data yang ada dan relevan, selama periode 20 tahun, berdasarkan uji-demi-uji dan produk-per-produk.
Selain itu, JSS menyebutkan ketidakakuratan tersebut muncul sebelum mereka mengakuisisi pabrik bekas Takata tersebut.
Seorang pejabat di Kementerian Transportasi mengatakan kepada Reuters, mereka masih menyelidiki berapa banyak mobil yang terpengaruh oleh masalah tersebut, dan apakah ada yang dikirim ke pasar di luar Jepang.
JSS menguasai market sabuk pengaman di Jepang sekitar 40 persen. menjadikannya pemasok terbesar di negara tersebut. Dan sekitar 30 persen memasok untuk pasar global.
Karena sabuk pengaman berdampak langsung pada keselamatan penumpang, skandal terbaru dapat memaksa pembuat mobil melakukan penarikan skala besar.
ADVERTISEMENT