Dinamika Pasar Otomotif Domestik, Hyundai Tak Ada Rencana Kerek Harga
·waktu baca 3 menit

Di tengah dinamika yang sedang terjadi di pasar otomotif domestik saat ini, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), Fransiscus Soerjopranoto mencoba untuk memandang bijak fenomena tersebut.
Mulai dari harga bahan bakar non-subsidi yang meningkat beberapa waktu terakhir, kemudian diikuti melemahnya nilai tukar rupiah, hingga rencana perubahan skema insentif untuk sektor otomotif yang bakal mempengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Namun demikian, Fransiscus mengatakan performa pasar otomotif dalam negeri hingga saat terpantau cukup baik. Terutama pada awal 2026, meski pada bulan ke-3 sempat menunjukkan pelemahan dan hingga pada akhirnya meningkat kembali pada April kemarin.
“Kita lihat memang ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya, khususnya bulan Februari kemarin ada kenaikan sekitar 12–13 persen. Kalau Maret itu memang ada penyesuaian karena momen Lebaran dan libur panjangnya," buka pria yang karib disapa Frans ini di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, perlambatan yang terjadi pada Maret bukan mencerminkan pelemahan permintaan. Frans menjelaskan momentum libur panjang Lebaran membuat jumlah hari kerja menjadi lebih pendek sehingga distribusi kendaraan ikut terdampak.
“Hari kerjanya kan jadi pendek. Nah kemudian pada April terlihat adanya recovery kembali dan kita lihat memang market bergerak naik,” katanya.
Hyundai memandang kondisi tersebut sebagai momentum penting untuk mengembalikan pasar otomotif nasional ke level ideal. Ia optimistis pemulihan bertahap dapat mendorong kembali penjualan kendaraan menuju angka satu juta unit per tahun.
Hyundai tak berencana naikkan harga jual
Di sisi lain, diakuinya faktor eksternal masih menjadi variabel utama yang memengaruhi strategi bisnis otomotif. Kenaikan harga bahan bakar maupun pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi berdampak langsung terhadap struktur harga kendaraan.
“Tergantung dari naiknya harga bensin atau harga bahan bakar tersebut. Kalau harga bahan bakar naik cukup signifikan dan nilai tukar mata uang juga naik, kita akan kombinasi itu semua menjadi yang namanya harga mobil,” jelas Frans.
Ia menambahkan, saat ini seluruh pemain otomotif nasional tengah berupaya menjaga momentum pasar. Berbagai strategi dilakukan mulai dari peluncuran produk baru hingga pemberian insentif kepada konsumen guna menjaga daya beli.
“Sekarang seluruh pemain yang ada di dalam industri otomotif Indonesia sebetulnya lagi berusaha untuk meramaikan market,” papar Frans.
Tekanan ekonomi global turut menjadi perhatian Hyundai, terutama melemahnya rupiah yang sempat berada di kisaran Rp 17.500 per USD 1. Menurutnya, secara teori ekonomi kondisi tersebut biasanya diikuti kenaikan bunga pembiayaan kendaraan.
“Sebenarnya kalau yang kita lihat, misalnya rupiah terus melemah, otomatis secara hukum ekonomi pastinya bunga akan naik,” kata dia.
Meski demikian, Hyundai menilai pemerintah masih berupaya menjaga stabilitas ekonomi domestik. Ia menyoroti kebijakan suku bunga acuan yang tetap dijaga di level relatif rendah sebagai sinyal agar aktivitas ekonomi tetap berjalan.
“Namun kita melihat pemerintah tetap berupaya menjaga BI Rate pada level 4,75 persen, artinya ada upaya agar ekonomi tetap berputar,” tandas Frans.
Penjualan kendaraan roda empat atau lebih tumbuh 55 persen
Kinerja penjualan mobil nasional pada April 2026 menunjukkan tren positif setelah sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir. Peningkatan terjadi baik dari sisi distribusi pabrik ke diler (wholesales) maupun penjualan langsung ke konsumen.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales pada April 2026 tercatat mencapai 80.776 unit. Angka tersebut melonjak 55 persen secara tahunan dibandingkan April 2025 yang hanya 52.108 unit.
Sementara itu, penjualan ritel juga mencatat pertumbuhan signifikan. Distribusi dari diler ke konsumen mencapai 75.730 unit atau naik 30,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 58.174 unit.
