Dorong Hilirisasi, Subsidi Mobil Listrik Prioritaskan Baterai Nikel

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Test drive Hyundai Kona EV Bekasi-Semarang single charge penuh. Foto: dok. HMID
zoom-in-whitePerbesar
Test drive Hyundai Kona EV Bekasi-Semarang single charge penuh. Foto: dok. HMID

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membocorkan perihal pemberian insentif mobil listrik akan berdasarkan jenis baterai. Namun demikian detail mengenai skemanya masih dalam pembahasan.

"Jadi yang baterainya berdasarkan nikel sama yang non nikel akan beda skemanya. Tapi itu nanti Menteri Perindustrian (kasih penjelasan)," terang katanya di konferensi pers APBN KiTa periode April 2026 di Jakarta, Selasa (5/5).

Purbaya menjelaskan prioritas insentif akan diberikan kepada mobil listrik berbasis baterai nikel, dengan tujuan peningkatan optimalisasi nikel yang berasal dari Indonesia.

"Kenapa yang nikel lebih besar subsidinya? Karena supaya nikel kita kepakai. Karena China pakai bukan nikel, jadi kita balik sekarang, nikelnya kita pakai, biar nikel punya kita bisa kepakai dan realisasi teknologi baterainya berjalan," terangnya.

Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini. Foto: Dok. NBRI

Sebelumnya dorongan pemberian insentif untuk mobil listrik berbasis nikel telah dilakukan oleh National Battery Reseacrh Institute (NBRI). Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta optimasi sumber daya alam strategis Indonesia.

"Lucu, kita punya program dan riset untuk nikel, tetapi yang datang mobilnya semua LFP. Itu bertentangan, jangan semua dikasih insentif, harusnya insentif itu yang berbasis nikel," ujar Evvy Kartini saat ditemui di sela-sela ASEAN Battery Technology Conference 2025 di Thailand, Kamis (28/8).

Proses perakitan baterai mobil listrik Hyundai. Foto: Hyundai

Faktanya kata Evvy, pemanfaatan nikel di Indonesia belum maksimal. Dalam artian optimalisasi pada penggunaan baterai kendaraan listrik dalam negeri masih terbatas. Sebagian besar produk hilirisasi masih berupa bahan baku mentah atau setengah jadi yang banyak diekspor.

"Nikel dijadikan ferronikel untuk stainless, ini yang sudah overcapacity. Nikel itu juga bisa jadi katoda, itu prosesnya beda dan perlu expand, dan di kita baru menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), sudah banyak. Tapi sayangnya nilai tambahnya baru 10 kali tapi tiba-tiba diekspor," katanya.

Menurutnya hilirisasi nikel dari Indonesia bisa dioptimalkan lagi nilai tambahnya terus-menerus hingga akhirnya digendong kendaraan listrik.

"Dijadikan nikel sulfate tambah jadi 15 kali, dijadikan precursor jadi 30 kali, kalau bisa dijadikan katoda ditambah lithium itu 55 kali, jadi pabrik dibikin sel nambah 150 kali, kalau jadi mobil listrik 355 kali," ungkapnya.