Dua Sisi Kurs Rupiah: Beban Impor Komponen vs Peluang Ekspor Otomotif
·waktu baca 4 menit

Mata uang rupiah masih tertekan. Nilai tukar, berdasarkan data Bloomberg pada Senin (8/6) pukul 13.49 WIB, kurs USD/IDR tercatat berada di level Rp 18.200 per dolar AS atau melemah 164 poin (0,91 persen).
Bagi industri otomotif nasional, fenomena pelemahan ini sejatinya dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, pelemahan nilai tukar domestik ini di atas kertas membuka ruang keuntungan bagi kegiatan ekspor kendaraan.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, harga produk otomotif buatan Indonesia otomatis menjadi jauh lebih kompetitif di pasar internasional, yang berpotensi mendongkrak volume penjualan ke luar negeri.
Momentum ini dinilai bisa dimanfaatkan oleh para produsen untuk memacu volume ekspor mobil secara lebih masif ke berbagai negara tujuan.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menjelaskan bahwa situasi fluktuasi kurs ini memang ibarat dua sisi mata uang bagi industri roda empat.
Bagi lini kendaraan listrik murni (BEV), pelemahan rupiah berisiko membuat harga jual model baru menjadi semakin sulit untuk ditahan di pasar domestik. Hal tersebut terjadi lantaran sebagian komponen canggih dan sel baterai bawaannya masih harus didatangkan lewat skema impor.
"Namun, pelemahan rupiah juga punya sisi peluang, yaitu ekspor. Rupiah yang lemah dapat membuat kendaraan buatan Indonesia lebih kompetitif di pasar luar negeri, terutama model dengan kandungan lokal tinggi," ujar Josua Pardede kepada kumparan.
Mengacu pada data resmi Gaikindo, aktivitas ekspor mobil utuh alias Completely Built Up (CBU) dari Indonesia sejauh ini sudah menjangkau banyak pasar potensial dunia. Mulai di kawasan ASEAN hingga benua lainnya.
Beberapa negara tujuan utama yang aktif menyerap produk rakitan lokal di antaranya Filipina, Meksiko, Peru, hingga Brunei Darussalam. Selain itu, penetrasi pasar global juga sudah merambah ke kawasan Timur Tengah dan Asia seperti Kuwait, Lebanon, serta Kamboja.
Kendati demikian, Pardede memberikan catatan kritis bahwa insentif dari keuntungan selisih kurs ini tidak serta-merta datang secara cuma-cuma. Manfaat positif dari rupiah yang melemah hanya akan terasa optimal apabila kendaraan yang diekspor memiliki angka Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.
Jika struktur produksinya masih didominasi material impor, keuntungan ekspor tersebut justru akan langsung tergerus oleh mahalnya biaya bahan baku. Berdasarkan analisis fundamental, posisi nilai tukar rupiah saat ini dinilai sudah terlempar jauh dan melewati batas nilai wajarnya.
Berdasarkan hitungan Real Effective Exchange Rate (REER) per Mei 2026, posisi rupiah diperkirakan berada sekitar 5-10 persen di bawah nilai ekuilibriumnya. Secara teknis, angka ekuilibrium atau nilai wajar ideal untuk USD/IDR seharusnya berada di bawah level Rp 17.000.
"Artinya, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak mencerminkan tekanan sentimen, risiko fiskal, arus modal, dolar AS kuat, dan gejolak geopolitik, bukan semata-mata kerusakan daya saing ekonomi," tambah Pardede.
Melihat tingginya volatilitas pasar, perusahaan otomotif diimbau segera menyusun langkah darurat guna memitigasi risiko jika tekanan kurs ini berlangsung dalam jangka waktu lama. Langkah kehati-hatian dalam menelurkan kebijakan baru juga disuarakan oleh para petinggi dari jajaran pabrikan manufaktur terbesar di tanah air.
Pasalnya, ketidakpastian global yang bergulir saat ini dinilai terlalu berisiko jika tidak diantisipasi dengan matang. Ini disampaikan Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam.
Dia menegaskan pentingnya melakukan kajian mendalam sebelum sebuah regulasi atau inisiatif ekonomi baru diputuskan. Bob mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menetapkan kebijakan strategis industri tanpa adanya kalkulasi dampak yang komprehensif terlebih dahulu.
"Problem kita adalah menghadapi global uncertainty, untuk itu sebaiknya dalam inisiatif baru bidang ekonomi dan industri ada kajian terlebih dahulu. Baru kemudian policy dibuat, jadi jangan policy dahulu baru dikaji kemudian," kata Bob kepada kumparan, Senin (8/6).
Namun Bob tak menampik, depresiasi rupiah seharusnya bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global. Justru membuka peluang yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Secara historis, tren pelemahan rupiah bukan hal baru. Ia menyebut depresiasi mata uang secara bertahap sudah terjadi sejak lama, bahkan bisa mencapai sekitar tiga hingga empat persen setiap tahun.
"Jadi kita harus prepare, memang dua tahun terakhir ini sampai 7 persen, tapi di sisi lain dengan rupiah melemah ini kesempatan bagi kita untuk menjadi eksportir," katanya kala ditemui di Jakarta pada April lalu.
Kondisi ini menurutnya harus menjadi dasar bagi pelaku industri untuk menyusun strategi jangka panjang, bukan sekadar merespons situasi jangka pendek. Apalagi, TMMIN sendiri telah lama menjadikan ekspor sebagai salah satu pilar bisnisnya, dengan berbagai model kendaraan yang diproduksi di Indonesia untuk pasar global.
"Kita harus lihat orientasinya ke depan jangka panjang. Kalau lihat jangka pendek, yang sudah banyak yang tutup. Pengalaman kita, Toyota menghadapi saat-saat susah seperti 98, kita enggak pernah keluar dari Indonesia. Baru bangun pabrik di Karawang, tiba-tiba terjadi 98. Kita enggak pernah menyatakan keluar dari Indonesia," jelas Bob.
Tanpa persiapan yang matang, pelemahan rupiah hanya akan menjadi angka tanpa dampak signifikan terhadap peningkatan ekspor. “Kalau industrinya kuat, justru ini jadi peluang,” tandasnya.
