Efek Penggunaan Bahan Bakar B50 untuk Mesin Diesel Lawas dan Modern

Implementasi mandatori biodiesel B50 kian dekat. Bahan bakar baru ini mengusung komposisi bauran yang terdiri atas 50 persen minyak nabati atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 50 persen minyak solar bumi.
Secara teoritis, peningkatan porsi minyak nabati ini otomatis mendongkrak karakteristik kimiawi bahan bakar secara signifikan jika disandingkan dengan formula B40 atau solar biasa. Namun, lompatan spesifikasi ini dinilai ibarat pisau bermata dua.
Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto mengatakan salah satu parameter perbedaan paling mencolok yang dibawa oleh B50 terletak pada lonjakan nilai Cetane Number (CN) atau angka setana.
Sebagai gambaran, jika mengacu pada basis spesifikasi dari regulasi lama, minyak solar bumi murni memiliki angka CN 48, sedangkan komponen biodiesel murni mengantongi nilai CN 51.
"Jadi kalau B50, (CN) 48 tambah 51 bagi 2. Berarti sekitar 49,5-an. Artinya kan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan B40 yang sekarang terimplementasi," buka Tri Yuswidjajanto dihubungi kumparan, Jumat (19/6/2026).
Ia memaparkan bahwa karakteristik utama dari bahan bakar dengan angka setana tinggi adalah responsnya yang jauh lebih cepat untuk meledak dan terbakar di dalam ruang mesin. Karakter sejenis ini sebenarnya sangat positif untuk menghasilkan pembakaran yang responsif dan minim emisi.
Namun catatan, sifat kimiawi yang super-responsif tersebut justru berpotensi menjadi bumerang bagi populasi mobil diesel generasi lawas yang masih beredar di Indonesia. Kendaraan yang belum mengadopsi sistem komputerisasi pasokan bahan bakar diprediksi dapat mengalami penurunan performa secara drastis.
"Kalau cetane number-nya naik tinggi, timing injection-nya tidak bisa menyesuaikan, justru dayanya turun," terang Tri.
Tri menambahkan pada unit mesin diesel jadul yang masih mengandalkan sistem indirect injection atau direct injection konvensional, waktu penyemprotan solar diatur secara mekanis kaku. Mesin-mesin lama ini didesain dengan asumsi bahan bakar membutuhkan waktu jeda sedikit lebih lama untuk membara setelah disemprotkan.
Ketika menenggak B50, Tri menjelaskan solar nabati tersebut akan langsung meletup terbakar terlalu dini saat piston masih bergerak ke atas menuju Titik Mati Atas (TMA) untuk melakukan kompresi.
Akibatnya, energi ledakan dini itu justru berbalik menahan laju piston, yang berpotensi membuat komponen mekanis mesin harus bekerja ekstra keras.
"Tarikannya mungkin saja jadi lemot. Nanjak jadi lebih menantang, mobilnya terasanya berat untuk jalan," jelasnya.
Fenomena "ngempos" dan berat ini dinilai mirip dengan kasus mobil bensin lawas era tahun 2000-an yang dipaksakan mengisi bensin beroktan sangat tinggi tanpa mengubah setelan pengapiannya. Alih-alih menjadi lebih bertenaga, ketidakcocokan waktu bakar murni membuat efisiensi energi yang dihasilkan mesin justru merosot tajam.
Di luar persoalan angka setana, perbedaan fisik lain dari B50 yang wajib diantisipasi adalah tingkat kekentalan atau viskositas serta massa jenis (densitas) yang jauh lebih tinggi daripada solar biasa.
Sifat dasar minyak nabati yang cenderung lebih kental ini berisiko membuat butiran kabut bensin yang disemprotkan oleh injektor menjadi lebih kasar.
"Karena viskositasnya di diesel (biodiesel) itu lebih kental dibanding solar, ada kemungkinan tidak seluruh bahan bakarnya habis terbakar," papar Tri.
Untungnya, seluruh potensi penurunan performa dan tarikan berat ini dipastikan tidak akan menjangkiti lini kendaraan diesel modern yang sudah mengadopsi sistem Common Rail. Kendaraan roda empat keluaran tahun 2003 ke atas umumnya telah dipersenjatai dengan sistem Electronic Fuel Injection (EFI) yang cerdas.
Melalui kawalan komputasi mobil atau ECU, sistem injeksi elektronik pada mobil modern secara otomatis akan mendeteksi perubahan jenis bahan bakar secara real-time. Komputer akan langsung memundurkan waktu penyemprotan bahan bakar mendekati titik puncak kompresi, sehingga potensi hilangnya tenaga mesin dapat langsung dieliminasi secara mandiri.
